PADANG PARIAMAN — Progres normalisasi Sungai Batang Anai di Nagari Anduriang telah mencapai 30 persen sejak pengerjaan dimulai pada 15 Mei 2026. Kepala Dinas PUPR Kabupaten Padang Pariaman, El Abdes Marsyam, memastikan penambahan alat berat terus dilakukan untuk mempercepat proses yang berlangsung hampir satu bulan ini.
Pasca-bencana galodo yang menghancurkan Jembatan Anduriang, alur Sungai Batang Anai berubah arah. Air bergeser mendekati lokasi yang direncanakan sebagai titik pembangunan akses sementara. Hal ini membuat masyarakat Nagari Anduriang bersikukuh agar posisi sungai dikembalikan ke tengah seperti sebelum bencana.
“Permintaan masyarakat adalah agar posisi sungai dikembalikan terlebih dahulu ke tengah seperti semula. Setelah itu baru dilakukan pembangunan akses dan penanganan jembatan,” ujar El Abdes Marsyam.
Pemkab Padang Pariaman telah menyurati BWS Sumatera V dan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk menindaklanjuti aspirasi warga. Respons cepat diberikan melalui pelaksanaan normalisasi yang kini tengah berlangsung dengan target percepatan.
Menurut El Abdes, pekerjaan normalisasi ini cukup panjang karena harus mengembalikan morfologi sungai ke kondisi alami. Setelah alur kembali normal, tahap berikutnya adalah perbaikan jembatan.
“Setelah normalisasi selesai, kami akan melakukan perbaikan pada jembatan yang ada untuk dijadikan sebagai jembatan darurat,” katanya.
Jembatan Anduriang ambruk akibat terjangan banjir bandang yang melanda kawasan tersebut pada November 2025. Sejak itu, akses warga Nagari Anduriang dan sekitarnya terputus total. Aktivitas ekonomi dan mobilitas sehari-hari warga terganggu, terutama petani dan pelajar yang harus memutar jalur lebih jauh.
Normalisasi Batang Anai menjadi prioritas karena tanpa penataan alur sungai, pembangunan jembatan darurat tidak bisa dimulai. Material bangunan dan alat berat baru bisa masuk setelah posisi sungai stabil dan tidak mengancam konstruksi.
Pemkab Padang Pariaman menargetkan jembatan darurat dapat segera berfungsi setelah normalisasi rampung. Belum ada kepastian waktu penyelesaian total, namun penambahan alat berat diharapkan mampu mengejar ketertinggalan progres.