PADANG — Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah tidak mau pembangunan di ranah Minang terhenti hanya karena anggaran menipis. Di hadapan seluruh fraksi DPRD dalam rapat paripurna, ia membeberkan strategi yang disebutnya bakal mengubah wajah Sumbar: mengoptimalkan aset daerah yang selama ini "tertidur pulas" dan meluncurkan instrumen pembiayaan bernama sukuk serta obligasi daerah.
"Kita harus berani keluar dari kotak. Aset daerah itu harta karun yang belum terjamah. Selama ini perhatian kita lebih banyak ke uang kas, padahal tanah, gedung, dan kekayaan publik lainnya bisa jadi mesin uang jika dikelola dengan cerdas," tegas Mahyeldi dalam rapat yang digelar Senin lalu.
Gubernur yang kembali meraih Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK ini mengungkapkan bahwa Pemprov Sumbar tengah mematangkan skema creative financing yang disebutnya menjadi pionir di Indonesia. Kesiapan Sumbar dalam menerapkan sukuk sebagai instrumen pembangunan bahkan mendapat sorotan dari Islamic Development Bank (IsDB) yang mengundangnya belajar langsung ke Jepang.
Yang paling mencengangkan dari paparan Mahyeldi adalah potensi remitansi perantau Minang yang tembus lebih dari Rp20 triliun per tahun. Angka fantastis ini, menurutnya, bisa menjadi lokomotif ekonomi daerah jika pemerintah, kabupaten/kota, dan nagari bersinergi mengarahkannya.
"Ini bukan sekadar uang kiriman. Ini kekuatan ekonomi yang jika dikelola bersama bisa membangun kampung halaman. Kita ajak semua anak nagari bersatu padu membangun Sumbar," ujarnya penuh haru.
Mahyeldi menegaskan bahwa pembangunan jalan, jembatan, hingga infrastruktur publik lainnya tetap bisa melesat meski APBD pas-pasan. "Sukuk dan obligasi daerah adalah jawabannya. Sumbar akan jadi laboratorium pembiayaan pembangunan nasional," katanya dengan optimisme.
Di tengah tekanan kebijakan efisiensi nasional, Gubernur berkomitmen menghadirkan terobosan yang tidak membebani rakyat, justru menggerakkan ekonomi dari bawah. Rapat paripurna yang dihadiri seluruh pimpinan perangkat daerah itu pun menjadi saksi deklarasi perang terhadap kemandekan pembangunan.
"Sumbar harus bergerak! Dengan kreativitas, sinergi, dan keberanian, kita wujudkan pembangunan yang merata dan bermanfaat untuk semua," pungkasnya, disambut tepuk tangan meriah dari peserta rapat.