PARIAMAN — Kepala Dinas Perhubungan Kota Pariaman Alfian menyatakan pihaknya telah memetakan titik parkir resmi untuk mengantisipasi kemacetan dan praktik parkir liar saat puncak acara Tabuik. Lokasi yang disiapkan meliputi Parkiran Nusantara, kawasan dekat Jembatan Puah, Terminal Kampung Pondok, serta ruas sepanjang Pantai Lohong hingga Pantai Cermin.
Untuk kendaraan besar, parkir bus dipusatkan di kawasan taman makam pahlawan atau GOR Rawang setelah penumpang diturunkan di Parkiran Nusantara. Sementara itu, angkutan desa diarahkan ke depan Kantor BNI Pariaman dan Kampung Belacan.
Selama puncak Tabuik, Pemkot Pariaman memberlakukan tarif hari libur. Biaya parkir untuk kendaraan roda dua sebesar Rp5.000, roda empat Rp10.000, dan bus Rp20.000. Setiap pengendara yang parkir di lokasi resmi akan mendapatkan karcis yang hanya berlaku untuk hari itu.
"Mereka diberikan karcis, ini berlaku untuk hari itu saja (puncak Tabuik)," kata Alfian di Pariaman, Sabtu.
Dishub Pariaman mengantisipasi adanya parkir liar, pungutan liar, hingga pemalakan dengan memanfaatkan lahan warga sebagai tempat parkir sementara. Wisatawan diminta melaporkan oknum yang melakukan praktik tersebut kepada petugas Dishub, aparat kepolisian, Satpol PP, atau aparatur pemerintah setempat yang berada di lokasi.
Sebanyak 250 personel diterjunkan pada puncak Tabuik. Mereka terdiri dari Satuan Polisi Lalu Lintas Polres Pariaman, anggota Dishub Pariaman, dan juru parkir. Tim gabungan ini bertugas mengatur arus lalu lintas sekaligus mengawasi seluruh titik parkir yang telah ditentukan.
Pemkot menargetkan 300 ribu kunjungan wisatawan selama penyelenggaraan Tabuik. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman Ferialdi merinci, 200 ribu di antaranya diproyeksikan hadir pada prosesi Tabuik Dibuang ke Laut. Angka ini menunjukkan potensi pergerakan massa yang besar di pusat kota dan kawasan pesisir.
Tabuik merupakan tradisi tahunan masyarakat Pariaman yang telah menjadi ikon budaya Sumatera Barat. Prosesi ini memperingati peristiwa Asyura dan melibatkan arak-arakan jamba (replika) sebelum akhirnya dibuang ke laut. Dengan skala pengunjung yang terus meningkat setiap tahun, persoalan parkir dan ketertiban lalu lintas menjadi tantangan logistik utama bagi pemerintah kota.
Pemkot Pariaman berharap persiapan ini dapat memastikan kelancaran acara sekaligus memberikan kenyamanan bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang menyaksikan puncak perayaan.