Monumen Galodo di Padang Panjang Dibangun dari Batu Longsor, Nama Korban Diukir di Permukaan

Penulis: Maruli Sinaga  •  Senin, 29 Juni 2026 | 14:43:31 WIB
Pekerja melanjutkan pembangunan Monumen Galodo dari batu longsor di Padang Panjang, Jumat (26/6/2026).

Pekerja melanjutkan pembangunan monumen tersebut pada Jumat (26/6/2026). Banjir bandang November tahun lalu tak hanya melanda Sumatera Barat, tetapi juga dua provinsi lain di Pulau Sumatera secara serentak.

Batu Longsor Jadi Material Utama, Nama Korban Diukir Langsung

Pemilihan material bukan tanpa alasan. Batu yang digunakan adalah puing longsoran dari lokasi bencana, dikumpulkan dan disusun kembali menjadi struktur monumen. Di permukaan batu itulah nama-nama korban diukir, menjadikannya monumen yang menyatu dengan jejak fisik bencana itu sendiri.

Pendekatan ini berbeda dari monumen pada umumnya yang kerap menggunakan bahan baru. Dengan material asli lokasi longsor, monumen ini menjadi pengingat autentik — bukan sekadar simbol, melainkan fragmen nyata dari peristiwa yang merenggut korban jiwa dan harta.

Bencana Serentak Tiga Provinsi, Pengingat bagi Generasi Mendatang

Banjir bandang November 2025 tercatat sebagai salah satu bencana hidrometeorologi terbesar di Sumatera. Dampaknya tidak terbatas pada satu wilayah; tiga provinsi di Pulau Sumatera mengalami bencana serupa dalam waktu hampir bersamaan. Ini memperlihatkan skala cuaca ekstrem yang luar biasa.

Monumen di Jembatan Kembar, Padang Panjang, sengaja didirikan di titik yang mudah diakses publik. Lokasi ini dipilih agar masyarakat dan generasi mendatang dapat melihat langsung, membaca nama-nama korban, dan memahami bahwa bencana serupa bisa terulang kapan saja.

Pengerjaan Berlanjut, Belum Diumumkan Target Rampung

Hingga Jumat pekan lalu, pekerja masih menyelesaikan struktur monumen. Belum ada pernyataan resmi dari Pemprov Sumbar maupun Himpunan Bersatu Teguh Sumbar mengenai target penyelesaian proyek ini. Namun, keberadaan monumen ini telah menjadi perbincangan warga sekitar yang melintas di Jembatan Kembar.

"Setiap kali lewat, kami ingat kejadian tahun lalu. Ini penting biar tidak lupa," ujar seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya.

Reporter: Maruli Sinaga
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top