Pakar UNP Zadrian Ardi Sebut Flexing Prestasi Anak di Medsos Bisa Picu Stres Akademik Hingga Depresi

Penulis: Bastian Sihombing  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:31:01 WIB
Guru Besar UNP menyebut flexing prestasi anak di media sosial dapat memicu stres akademik hingga depresi.

PADANG — Kebanggaan orang tua terhadap capaian anak yang diekspos berlebihan di media sosial, atau kerap disebut flexing, kini menjadi perhatian serius akademisi. Prof. Dr. Zadrian Ardi, Guru Besar Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Padang (UNP), menegaskan bahwa unggahan prestasi yang terus-menerus dapat menjadi bumerang bagi kesehatan mental anak.

Menurut Zadrian, stres akademik tidak melulu berasal dari banyaknya tugas kuliah atau tuntutan nilai tinggi. Berdasarkan kajian dan penanganan kasus di Laboratorium Bimbingan dan Konseling UNP, tekanan justru kerap lahir dari ekspektasi orang tua yang tidak dikomunikasikan dengan baik kepada anak.

Tekanan Tersembunyi di Balik Layar Gawai

“Semua orang tua pasti bangga dengan anaknya. Dulu mungkin flexing hanya diketahui tetangga sekitar, sekarang bisa dilihat seluruh dunia melalui media sosial,” ujar guru besar termuda UNP dengan bidang kepakaran Teknologi dan Media dalam Bimbingan dan Konseling itu.

Yang perlu dihindari, lanjut Zadrian, bukanlah rasa bangga itu sendiri. Bahaya muncul ketika kebiasaan tersebut berkembang menjadi ajang membandingkan anak dengan orang lain atau memaksakan standar tertentu. “Membandingkan anak dengan anak lain atau menjadikan capaian orang lain sebagai ukuran keberhasilan dapat menjadi beban psikologis,” tegasnya.

Banyak Mahasiswa Memendam Tekanan Sendiri

Dari pengalaman mendampingi mahasiswa, Zadrian menemukan fakta bahwa tekanan akademik tidak hanya dialami mereka yang kemampuan belajarnya rendah. Banyak mahasiswa yang sebenarnya mampu menyelesaikan studi justru terjebak dalam target pribadi dan harapan keluarga yang tidak realistis.

Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan memendam masalah. “Ada yang mengaku sudah mengerjakan skripsi, padahal belum memulainya sama sekali karena khawatir mengecewakan orang tua,” ungkapnya. Dalam beberapa kasus, mahasiswa bahkan terlambat lulus karena takut mengungkapkan kondisi sebenarnya kepada keluarga.

Gejala Berat: Konsumsi Obat Tidur Hingga Psikiatri

Zadrian mengungkapkan, sebagian mahasiswa yang datang ke layanan konseling telah mengalami tekanan dari tingkat ringan hingga berat. Temuan di lapangan menunjukkan, terdapat mahasiswa yang mengonsumsi obat tidur maupun obat psikiatri akibat tekanan akademik yang menumpuk dan tidak tertangani sejak dini.

Selain faktor keluarga, kebiasaan menunda pekerjaan atau prokrastinasi turut memperbesar risiko stres. Tugas yang terus ditunda akan menumpuk dan memperbesar tekanan yang dirasakan mahasiswa. Karena itu, kemampuan mengelola waktu dan strategi menghadapi tekanan menjadi bagian penting dalam pencegahan.

Pertolongan Pertama Psikologis dan Kunci Komunikasi

Untuk menjawab persoalan ini, timnya mengembangkan model konseling daring yang diawali dengan pendekatan Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis. Pendekatan ini dirancang agar mahasiswa yang mulai mengalami tekanan dapat memperoleh bantuan sejak fase awal, sehingga masalah tidak berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih berat.

Zadrian menekankan bahwa komunikasi adalah kunci utama. Orang tua boleh memiliki harapan terhadap anak, tetapi harus memahami kemampuan anak dan memberi ruang untuk berdialog mengenai proses yang sedang dijalani. “Lebih banyaklah bertanya tentang perkembangan anak, dengarkan apa yang mereka alami, lalu berikan penguatan ketika mereka menunjukkan kemajuan. Ekspektasi boleh ada, tetapi jangan sampai berubah menjadi tekanan,” pungkasnya.

Reporter: Bastian Sihombing
Sumber: mimbarsumbar.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top