Musim panas yang menyengat tidak hanya membuat manusia gerah, tetapi juga merusak hamparan rumput di halaman rumah. Banyak pemilik rumah di Inggris dan Amerika Serikat mulai beralih ke garam Epsom sebagai alternatif pupuk rumput yang ekonomis, terutama ketika harga pupuk komersial terus merangkak naik.
Garam Epsom, atau magnesium sulfat, mengandung dua mineral alami yang berperan penting bagi pertumbuhan tanaman. Magnesium meningkatkan produksi klorofil serta membantu penyerapan fosfor dan nitrogen, sementara sulfur mendukung metabolisme dan fungsi enzim agar rumput lebih tahan terhadap tekanan cuaca panas.
Epsom Salt Council, lembaga yang mempromosikan penggunaan garam ini, merekomendasikan takaran 3 pon (sekitar 1,36 kilogram) garam Epsom untuk setiap 1.250 kaki persegi lahan rumput. Aplikasi bisa dilakukan dengan alat sebar atau dicampur air lalu disemprotkan.
Waktu terbaik untuk memupuk adalah pagi hari atau menjelang sore. Penyemprotan di tengah hari yang terik hanya akan membuat air menguap sebelum sempat diserap akar.
Kendati terbilang murah dan mudah didapat, garam Epsom bukan pupuk universal. Para pakar menekankan bahwa aplikasi hanya boleh dilakukan jika tanah benar-benar kekurangan magnesium. Penggunaan berlebihan justru berisiko merusak keseimbangan unsur hara di dalam tanah.
Untuk memastikannya, pemilik rumah disarankan melakukan uji pH tanah terlebih dahulu. Alat tes sederhana seperti Garden Tutor Soil pH Test Kit tersedia dengan harga sekitar US$12 atau setara Rp192 ribu di pasar daring.
Di pasar ritel, garam Epsom dijual dengan harga beberapa dolar per kemasan, jauh lebih murah dibandingkan pupuk rumput bermerek. Satu kemasan garam Epsom juga bisa digunakan ganda: untuk menyuburkan rumput sekaligus merendam tubuh setelah seharian berkebun.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa pupuk hanyalah satu bagian dari perawatan rumput. Penyiraman yang konsisten tetap menjadi faktor utama, terutama di musim kemarau. Tanpa air yang cukup, nutrisi dari garam Epsom tidak akan pernah sampai ke akar rumput.