SUMATERA BARAT — Pekan ini menjadi pekan yang padat agenda ekonomi, baik dari dalam maupun luar negeri. Bagi pasar Indonesia, rilis inflasi Amerika Serikat pada Rabu (12/8/2026) menjadi perhatian terbesar karena berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan bisa memperkuat dolar AS, memicu arus keluar modal asing, dan menekan rupiah serta imbal hasil obligasi domestik.
Di sisi lain, serangkaian data ekonomi China yang dirilis pekan ini diproyeksikan masih lemah. Bloomberg Economics mencatat, perlambatan penyaluran dana fiskal dan lemahnya permintaan sektor swasta terus membebani pertumbuhan kredit Negeri Tirai Bambu.
“Secara struktural, meningkatnya ketergantungan ekonomi China pada industri berorientasi teknologi yang relatif membutuhkan lebih sedikit kredit juga menekan ekspansi kredit,” sebut Bloomberg Economics dalam catatannya.
Pelemahan harga produsen di China mencerminkan lemahnya permintaan domestik dan kelebihan kapasitas industri. Pertumbuhan kredit pun diperkirakan melambat, dengan tambahan pembiayaan sosial hanya sekitar 810 miliar yuan pada Juli, jauh di bawah 3,4 triliun yuan pada Juni. Kondisi ini mengindikasikan ekonomi China masih menghadapi persoalan lemahnya permintaan dan momentum pertumbuhan.
Perlambatan ekonomi China berpotensi memengaruhi permintaan terhadap komoditas ekspor Indonesia. Sementara itu, eskalasi konflik Iran tetap perlu dicermati karena berisiko meningkatkan tekanan inflasi impor sekaligus membebani neraca eksternal dan fiskal Indonesia.
Dari dalam negeri, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Senin (10/8/2026) akan menjadi perhatian pelaku pasar. IKK Indonesia sempat berada di level 120,9 pada Mei, lalu turun ke 117,8 pada Juni. Meski masih tertahan di atas level 100 yang menandakan zona optimis, tren pelemahan ini perlu dicermati karena mencerminkan moderasi daya beli masyarakat.
Berbeda dengan China, India diperkirakan menunjukkan perkembangan lebih positif dari sisi inflasi. CPI Juli diproyeksikan turun menjadi 4,3% dari 4,4% seiring meredanya tekanan pasokan dan membaiknya kondisi monsun. Namun, sisi eksternal India masih menghadapi tekanan karena defisit perdagangan diperkirakan melebar menjadi US$31,9 miliar dari US$30,4 miliar, akibat tingginya impor minyak dan pelemahan ekspor ke negara-negara Teluk.
Selain data utama di atas, sejumlah agenda ekonomi lain juga patut dicermati pelaku pasar sepanjang pekan ini:
Dengan banyaknya data yang dirilis, volatilitas pasar keuangan global berpotensi meningkat. Investor disarankan mencermati pergerakan dolar AS dan harga minyak sebagai indikator awal sentimen risiko. Investasi mengandung risiko.