Cegah Stunting dari Hulu: Edukasi Anemia dan Peran Ayah untuk Calon Pengantin

Penulis: Bastian Sihombing  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:37:01 WIB
Mahasiswa Universitas Tidar melakukan edukasi pencegahan stunting kepada calon pengantin di Desa Donorejo, Sumatera Barat, Jumat (31/7/2026).

SUMATERA BARAT — Masalah stunting di Indonesia sering kali baru disadari saat anak sudah lahir atau balita. Padahal, pencegahan paling efektif justru dimulai jauh sebelum pernikahan, bahkan sejak masa remaja. Lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, mahasiswa Universitas Tidar mencoba pendekatan baru di Desa Donorejo dengan menyasar empat kelompok rentan sekaligus: remaja perempuan, calon pengantin, ibu hamil, dan keluarga dengan balita stunting.

Program yang berlangsung sejak Rabu, 15 Juli 2026 ini tidak hanya berhenti pada penyuluhan. Tim mahasiswa memulai dengan pemetaan data ibu hamil dan pendampingan gizi langsung untuk balita, sebelum akhirnya menggelar sosialisasi masif pada Jumat, 31 Juli 2026.

Kenapa Remaja Putri Jadi Sasaran Utama?

Perhatian khusus diberikan pada remaja putri karena mereka adalah calon ibu di masa depan. Jika sejak muda sudah mengalami anemia, risiko melahirkan anak stunting akan meningkat drastis. Karena itu, materi yang diberikan fokus pada kebiasaan sehari-hari yang sering terlewat.

  • Konsumsi tablet tambah darah secara rutin.
  • Perbanyak makanan tinggi zat besi seperti daging merah, hati ayam, dan bayam.
  • Tingkatkan asupan vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi.
  • Kurangi minum teh berdekatan dengan waktu makan karena bisa menghambat penyerapan nutrisi.

Bukan Cuma Soal Gizi: Fatherless dan Risiko 4T

Hal menarik dari program ini adalah keberaniannya mengangkat topik yang jarang disentuh dalam diskusi stunting, yaitu fenomena fatherless atau ketidakhadiran peran ayah dalam pengasuhan. Lewat materi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), para calon pengantin diajak memahami bahwa tumbuh kembang anak bukan hanya tanggung jawab ibu.

Edukasi ini juga mencakup Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) dan pemahaman risiko 4T: Terlalu muda melahirkan, Terlalu tua melahirkan, Terlalu dekat jarak kehamilan, dan Terlalu banyak anak. Diskusi dua arah yang santai dipilih agar warga tidak merasa digurui, sehingga pesan tentang bahaya pernikahan dini dan mitos "banyak anak banyak rezeki" bisa diterima lebih terbuka.

Pendampingan Ibu Hamil dan Balita Stunting

Untuk ibu hamil, fokus utamanya adalah pemenuhan gizi selama kehamilan agar janin tumbuh optimal. Setelah bayi lahir, para ibu diedukasi untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, dilanjutkan dengan MP-ASI 3T: Tepat waktu, Tepat gizi, dan Tepat tekstur.

Kebiasaan rutin datang ke posyandu juga ditekankan, bukan sekadar menimbang berat badan, tetapi untuk memantau grafik pertumbuhan anak secara berkala. Selain itu, menjaga hygiene dan sanitasi lingkungan menjadi poin penting karena infeksi berulang pada anak bisa menghambat penyerapan gizi.

Perangkat Desa Donorejo, Setyo Adi Ardianto, mengapresiasi langkah mahasiswa ini. "Kehadiran mahasiswa KKN sangat membantu kami dalam mempercepat edukasi kesehatan di desa. Materi yang disampaikan sangat kontekstual dan bantuan nutrisi yang diberikan sangat berdampak langsung bagi warga kami," ujarnya.

Langkah Kecil yang Bisa Ditiru di Rumah

Program ini membuktikan bahwa pencegahan stunting butuh kerja sama banyak pihak. Untuk ibu muda di rumah, memastikan asupan zat besi harian keluarga dan melibatkan suami dalam pengasuhan adalah dua langkah sederhana yang bisa langsung dimulai. Kuncinya adalah konsistensi, bukan hanya saat hamil atau saat anak masih balita.

Reporter: Bastian Sihombing
Sumber: kompasiana.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top