Cuti Melahirkan 6 Bulan dan Pengaruhnya pada Keberhasilan ASI Eksklusif

Penulis: Ronal Siregar  •  Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:33:02 WIB
Ibu menyusui memerah ASI di ruang laktasi kantor, didukung fasilitas yang memadai untuk kelancaran ASI eksklusif.

SUMATERA BARAT — Kembali bekerja setelah cuti melahirkan sering jadi momen yang mendebarkan bagi ibu menyusui. Pertanyaan besar selalu muncul: apakah stok ASI cukup? Apakah produksi akan tetap lancar? Data terbaru menunjukkan, durasi cuti yang memadai memegang peranan kunci dalam menjawab kekhawatiran ini.

Durasi Cuti Ideal Menurut WHO dan Aturan di Indonesia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan cuti melahirkan selama 18 minggu atau sekitar 6 bulan. Indonesia sendiri telah menyesuaikan diri dengan rekomendasi ini melalui UU KIA tahun 2024. Kini, ibu bekerja berhak mendapatkan cuti melahirkan selama 6 bulan penuh.

Rinciannya, 3 bulan pertama wajib diberikan oleh pemberi kerja. Sedangkan 3 bulan berikutnya dapat diberikan jika ada kondisi khusus yang menyertainya. Sebelumnya, aturan hanya mewajibkan cuti 3 bulan, sehingga kebijakan baru ini merupakan langkah maju yang signifikan.

Angka Keberhasilan ASI Eksklusif Meningkat Hingga 52%

Efek positif dari cuti melahirkan tidak main-main. Ketua Satgas ASI IDAI, Dr. dr. Naomi Esthernita F.D., Sp.A, Subsp.Neo.(K), menyatakan bahwa pemberian cuti internal berbayar mampu meningkatkan angka keberhasilan ASI eksklusif hingga 52%.

"Cuti internal berbayar mampu meningkatkan angka keberhasilan ASI eksklusif sebesar 52%," ujarnya dalam acara Puncak Perayaan Pekan ASI Sedunia 2026 di RSUI, Depok, Sabtu (8/8/2026).

Temuan ini sejalan dengan studi pada 2018. Ibu yang mendapatkan cuti melahirkan selama 6 bulan atau lebih punya peluang lebih tinggi untuk memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan, dibandingkan ibu yang cutinya lebih pendek.

Hambatan Utama Setelah Kembali Bekerja

Sayangnya, momen kembali ke kantor sering menjadi titik rawan terhentinya ASI eksklusif. Dr. Naomi mengungkapkan bahwa banyak ibu yang memutuskan berhenti menyusui karena kurangnya dukungan dari tempat kerja.

"Ibu yang bekerja banyak yang memutuskan untuk stop ASI karena kurangnya dukungan dari tempatnya bekerja," lanjut dr Naomi. Kebijakan yang tidak pro ibu menyusui, hambatan karier, hingga menumpuknya pekerjaan menjadi penyebab utama terputusnya ASI eksklusif di 6 bulan pertama.

Dukungan yang Perlu Disiapkan Agar ASI Tetap Lancar

Terputusnya ASI eksklusif sebenarnya bisa dicegah dengan dukungan yang tepat dari keluarga, lingkungan, dan terutama tempat kerja. Dukungan ini bukan sekadar formalitas.

"Dukungan di tempat kerja bukan hanya menyediakan ruangan laktasi saja, tapi juga memberikan kesempatan untuk pumping dan dukungan seperti loker ASI, freezer ASI. Kalau tidak, ya angka keberhasilannya tidak bisa meningkat," tutup dr Naomi.

Jadi, keberhasilan menyusui bukan hanya tugas ibu semata. Dibutuhkan kolaborasi dari semua pihak, mulai dari kebijakan negara, pengertian atasan, hingga fasilitas kantor yang memadai, agar cita-cita memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan bisa tercapai.

Reporter: Ronal Siregar
Sumber: popmama.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top