Bukan Cuma Kibarkan Bendera, Penyelam Berau Tanam Karang di Pulau Terluar untuk HUT RI ke-81

Penulis: Ronal Siregar  •  Senin, 17 Agustus 2026 | 18:42:31 WIB
Penyelam menanam fragmen karang pada media transplantasi di dasar laut Pulau Maratua, Kalimantan Timur, dalam rangka HUT RI ke-81.

SUMATERA BARAT — Pemilihan Maratua bukan tanpa alasan. Pulau ini berstatus sebagai salah satu wilayah terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Ketua Panitia Berau Divers, Agus, menegaskan bahwa justru di titik terluar inilah rasa cinta tanah air perlu terus digelorakan.

"Khusus Pulau Maratua, kami memilihnya karena Maratua merupakan salah satu pulau kecil terluar Indonesia. Di wilayah terluar pun kita harus terus menumbuhkembangkan rasa nasionalisme," ujarnya.

Selain nilai simbolis, Maratua dikenal sebagai ikon wisata bahari kelas dunia. Fenomena kumpulan barracuda yang menjadi daya tarik utama bawah laut pulau ini telah memikat penyelam dari berbagai negara.

Dua Aksi Utama: Menanam Karang, Mengibar Bendera

Rangkaian kegiatan diawali dengan transplantasi terumbu karang di sejumlah titik yang mengalami kerusakan. Media transplantasi khusus ditempatkan di dasar laut sebagai tempat tumbuh fragmen karang baru. Langkah ini merupakan kontribusi nyata komunitas untuk memulihkan ekosistem yang menjadi rumah bagi biota laut.

Setelah proses penanaman selesai, giliran tim freediver membawa Sang Saka Merah Putih menuju titik upacara di bawah air. Bendera kemudian diserahkan kepada inspektur upacara dan tim pengibar sebelum seluruh peserta memberikan penghormatan.

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, yang hadir dalam seremoni tersebut memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, habitat laut membutuhkan karang yang sehat agar biota di dalamnya dapat hidup dan potensi wisata terus berkembang.

"Saya mengapresiasi kerja tim Berau Divers dalam menjaga karang, mengembalikan karang yang rusak, kemudian ditambah dengan kegiatan pengibaran bendera di bawah laut," kata Sri Juniarsih.

Pesan "One Ocean, One Responsibility" untuk Semua

Di balik kemeriahan upacara bawah laut, Berau Divers mengusung pesan lingkungan yang tegas: laut adalah ruang bersama yang menghubungkan kehidupan, dan menjaganya adalah tanggung jawab semua orang—bukan hanya penyelam atau masyarakat pesisir.

Ketua Berau Divers, Fitriani, menekankan bahwa menjaga laut tidak melulu soal kegiatan konservasi besar-besaran. Hal paling sederhana adalah memastikan setiap aktivitas wisata tidak merusak ekosistem.

"Jangan menyentuh atau menginjak terumbu karang, jangan mengganggu atau menyakiti biota laut, dan mari menjalankan aktivitas wisata secara beretika," tegas Fitriani.

Komunitas ini juga mengecam keras praktik eksploitasi satwa laut, termasuk terhadap penyu yang dilindungi. "Keindahan laut seharusnya dinikmati dengan tetap menghormati kehidupan yang ada di dalamnya, bukan dengan mengeksploitasinya," tambahnya.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Kelestarian Maratua

Kegiatan ini terwujud berkat dukungan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Berau, Green Nirvana, PT Berau Coal, PT Asian Bulk Logistic, hingga PT Pamapersada Nusantara. PLN UP3 Berau, Bankaltimtara, dan sejumlah perusahaan lokal lainnya juga turut ambil bagian.

Agus berharap kolaborasi ini menjadi contoh bahwa menjaga laut tidak bisa dilakukan sendiri. Pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan wisatawan memiliki ruang yang sama untuk berkontribusi.

"Kita punya tanggung jawab yang sama untuk menjaga apa yang sudah ada, apa yang menjadi kekayaan daerah agar dapat terus dilestarikan," ujarnya.

Bagi para penyelam, berada di bawah laut bukan hanya tentang menikmati keindahan. Ada tanggung jawab untuk memastikan kehidupan di dalamnya tetap tumbuh bagi generasi berikutnya. Cinta Maratua untuk Negeri, One Ocean, One Responsibility.

Reporter: Ronal Siregar
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top