SOLOK SELATAN — Suasana haru menyelimuti SMAN 4 Solok Selatan setelah kabar mutasi Kepala Sekolah Akmalu Rijal Putra beredar cepat di kalangan wali murid dan pelajar. Sejumlah siswa bahkan terlihat menangis dan enggan menerima kepindahan sosok yang baru satu tahun menjabat tersebut.
Kebijakan rotasi ini bukan tanpa alasan. Aturan baku menyebutkan masa jabatan kepala sekolah dibatasi maksimal delapan tahun atau satu periode. Setelah itu, yang bersangkutan wajib kembali menjadi tenaga pendidik. Keputusan ini pun harus diterima dengan lapang dada oleh Akmalu yang dikenal dengan pendekatan disiplinnya.
"Bapak tidak boleh tinggalkan sekolah ini, sekolah kami ini baru saja keluar dari keterpurukan, kami belum menerima," ujar para murid kompak saat mencoba menghampiri ruang kerja Akmalu. Kesedihan mendalam ini juga dirasakan para orang tua yang baru menitipkan anaknya di sekolah tersebut.
Seorang orang tua wali murid yang bekerja merantau mengaku baru memindahkan anaknya ke SMAN 4 karena melihat perkembangan sekolah yang pesat. "Jujur saja, saya salah satu orang tua murid yang jauh dari rantau. Melihat kemajuan di SMAN 4 Solok Selatan di tangan bapak, saya serahkan anak saya sekolah di sini. Kini bapak baru satu tahun sudah pindah lagi," tulisnya dalam sebuah unggahan di media sosial.
Di bawah kepemimpinan Akmalu, SMAN 4 Solok Selatan tengah berbenah diri. Ia menginisiasi program inovasi yang disebut Mambangkik Batang Tarandam, sebuah filosofi Minangkabau untuk bangkit dari keterpurukan. Program ini dinilai berhasil mendorong peningkatan kedisiplinan tenaga pendidik dan menambah jumlah siswa baru.
Namun, di tengah proses pembenahan yang sedang berjalan, surat keputusan mutasi datang. Akmalu harus mengakhiri masa baktinya lebih cepat dari harapan banyak pihak yang menginginkan programnya berlanjut.
Menanggapi polemik yang berkembang, Akmalu Rijal Putra membenarkan keputusan mutasi tersebut. Ia menegaskan bahwa rotasi dan mutasi merupakan hal biasa dalam kedinasan, terlebih ada regulasi baku terkait masa jabatan kepala sekolah.
"Berjalan sudah sampai di batas dan harus legowo. Terima kasih atas kebersamaan dan mohon maaf atas kesalahan selama memimpin, karena saya terlalu keras dan disiplin," ujarnya kepada media.
Ia juga menyampaikan permintaan maaf karena banyak cita-cita dan harapan yang belum sempat terwujud. "Banyak cita-cita dan harapan yang belum terwujud, namun regulasi periodisasi sudah habis," tambahnya.
Akmalu dikenal sebagai sosok pemimpin yang membawa perubahan signifikan di setiap tempat tugasnya. Ia selalu mengajak anak didik dan tenaga pendidik untuk disiplin setiap saat. Kini, ia harus kembali ke peran awalnya sebagai guru Kimia di SMAN 6 Solok Selatan.
Ucapan perpisahan pun disampaikannya untuk keluarga besar SMAN 4 Solok Selatan. "Selamat tinggal kawan-kawan seprofesi, semoga di kesempatan lain kita dipertemukan kembali. Buat anak-anakku, kalian hebat, maaf bapak yang selalu buat kalian kesal. Tetapi semuanya itu bapak lakukan karena bapak sayang kalian dan tidak ingin kalian gagal," tutupnya.