Kualitas udara di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, berada pada kategori tidak sehat setelah kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan di Riau, Jambi, hingga Sumatera Selatan semakin tebal pada Selasa pagi. Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), nilai parameter PM1.5 mencapai angka 170.
PULAU PUNJUNG — Kabut asap yang menyelimuti Dharmasraya dalam beberapa hari terakhir dipastikan berasal dari wilayah tetangga, bukan dari titik api lokal. Analis Kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Dharmasraya, Ardianus Efendi, mengatakan ketebalan kabut pada Selasa ini meningkat dibandingkan hari-hari sebelumnya, meski jarak pandang masih terpantau normal.
"Kondisi kabut asap sudah berlangsung sejak beberapa hari terakhir, hari ini memang cukup tebal dibandingkan biasanya," ujarnya di Pulau Punjung, Selasa.
Secara geografis, Dharmasraya berbatasan langsung dengan provinsi Riau dan Jambi. Ardianus menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut, ditambah Sumatera Selatan, menjadi penyumbang utama kabut asap yang kini menyelimuti daerahnya.
"Kalau titik api di Dharmasraya saya rasa tidak menyumbang kabut asap. Kemarin memang sempat terpantau tujuh titik, tetapi hari ini tidak ada titik api yang terpantau," kata Ardianus.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Dharmasraya, Novandri Ismi, menyebut hasil pemantauan ISPU pada Selasa pagi menunjukkan kualitas udara berada pada level tidak sehat. Angka parameter PM1.5 yang mencapai 170 menjadi indikator utama pencemaran tersebut.
Dengan kondisi ini, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker menjadi keharusan untuk menekan risiko gangguan pernapasan.
BPBD Dharmasraya telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menangani dampak kabut asap ini. Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah pembagian masker kepada masyarakat sebagai upaya mengurangi dampak paparan asap.
Sementara itu, DLH Dharmasraya akan terus memantau perkembangan kualitas udara dengan berkoordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pemantauan ini dilakukan untuk memberikan informasi terkini kepada warga serta menentukan langkah mitigasi selanjutnya apabila kondisi udara semakin memburuk.