Pakar ULM Sebut Kabut Asap Karhutla Pembunuh Diam-diam, Kunjungan RS Naik 40 Persen

Penulis: Topan Lubis  •  Selasa, 25 Agustus 2026 | 15:03:01 WIB
Kabut asap karhutla di Banjarbaru menyelimuti pemukiman warga, Senin (10/2).

Prof Dr dr Syamsul Arifin, MPd, FISPH, FISCM, Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat (ULM) memperingatkan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan pembunuh diam-diam yang mengancam nyawa. Data penelitian menunjukkan kunjungan ke rumah sakit meningkat hingga 40 persen saat kabut asap melanda, terutama untuk kasus gangguan pernapasan dan jantung.

BANJARBARU — Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) ULM itu menegaskan, masih banyak masyarakat yang menganggap kabut asap sebagai bencana biasa yang harus diterima dengan pasrah. Anggapan ini dinilainya keliru dan berbahaya.

"Anggapan ini keliru dan berbahaya," tegasnya di Banjarbaru, Senin.

Partikel PM2.5: 20 Kali Lebih Kecil dari Rambut Manusia

Syamsul menjelaskan, kabut asap adalah kumpulan partikel halus dan polutan di udara yang dapat masuk hingga ke paru-paru. Komponen utamanya adalah PM2.5, partikel berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer.

Untuk membayangkan betapa kecilnya ukuran ini, rambut manusia memiliki diameter sekitar 50–70 mikrometer. Artinya, PM2.5 lebih dari 20 kali lebih kecil dari rambut kita.

Karena ukurannya yang sangat kecil, PM2.5 tidak tertahan oleh rambut hidung atau lendir saluran napas bagian atas. Partikel ini meluncur langsung ke alveolus (kantung udara paru) dan bahkan dapat tembus ke aliran darah.

Bersamaan dengan PM2.5, polutan lain seperti karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), dan senyawa organik volatil (VOC) yang bersifat iritatif maupun karsinogenik juga ikut terbawa.

Dampak Kesehatan: Dari Iritasi Ringan hingga Serangan Jantung

Dampak kesehatan yang ditimbulkan kabut asap bervariasi, mulai dari iritasi ringan sampai kondisi yang mengancam jiwa. Syamsul menyebut ada sejumlah kelompok rentan yang paling berisiko dan memerlukan perhatian ekstra karena kerentanan fisiologis mereka.

Kelompok tersebut di antaranya bayi dan balita, ibu hamil, penderita asma atau penyakit paru, serta penderita penyakit jantung.

Enam Langkah Protokol Keselamatan Lindungi Diri dari Kabut Asap

Syamsul memberikan enam langkah protokol keselamatan untuk melindungi diri saat kabut asap melanda. Langkah pertama adalah menggunakan masker yang tepat, yakni KN95/N95 dengan filtrasi lebih dari 95 persen untuk partikel 0,3 mikrometer.

Kedua, mengurangi aktivitas di luar ruangan. Semakin berat aktivitas, semakin cepat dan dalam napas dihirup sehingga dosis partikel yang masuk ke paru-paru jauh lebih besar.

Ketiga, tutup pintu dan jendela agar kualitas udara di dalam ruang tetap bagus. Keempat, minum air putih yang cukup.

"Langkah kelima bilas mata dengan air bersih bila perih dan terakhir segera ke fasilitas kesehatan jika gejala berat baik nyeri dada, jantung berdebar atau pusing mendadak," jelas Syamsul.

Reporter: Topan Lubis
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top