Karya Bakti TNI AD di Mentawai Libatkan Peneliti UPI dan SeskoAD, 6 Jembatan dan 10 Sumur Bor Rampung Dibangun

Penulis: Ronal Siregar  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:42:02 WIB
Karya Bakti TNI AD di Mentawai merampungkan pembangunan enam jembatan dan sepuluh sumur bor dengan melibatkan peneliti UPI dan SeskoAD.

MENTAWAI — Keterlibatan akademisi dalam program Karya Bakti TNI AD untuk Rakyat tahun 2026 menjadi pembeda dari program serupa sebelumnya. Tim peneliti tidak hanya mendokumentasikan hasil pembangunan, tetapi juga melakukan kajian mendalam terhadap perubahan yang dirasakan masyarakat, mulai dari akses transportasi hingga pemenuhan kebutuhan air bersih.

Ketua tim peneliti UPI, Prof. Dr. rer. nat. Nandi, S.Pd., M.T., M.Sc., menegaskan bahwa pengukuran dampak pembangunan kini dilakukan lebih ilmiah. "Kami tidak hanya melihat hasil fisik, tetapi juga perubahan sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.

Jembatan Penghubung Buka Isolasi Antar Desa

Dari enam jembatan yang dibangun, tiga di antaranya menjadi prioritas peninjauan tim peneliti. Dua jembatan beton berada di Dusun Katiet dan Dusun Gobik, Desa Bosua, serta satu jembatan gantung di Desa Beriulou, Kecamatan Sipora Selatan.

Komandan Kodim 0319/Mentawai sekaligus Dansatgas Karya Bakti, Letkol Inf Bambang Budi Hartanto, menyebut infrastruktur ini sebagai kebutuhan vital. "Jembatan ini bukan sekadar penghubung dua wilayah, melainkan jembatan kemajuan ekonomi dan kemudahan akses warga untuk keperluan pendidikan, kesehatan, maupun perdagangan hasil bumi," kata dia.

Warga Desa Bosua mengaku terbantu dengan adanya akses transportasi yang lebih aman. "Sekarang kami tidak perlu memutar jalan jauh. Anak-anak sekolah juga lebih aman," ujar salah seorang warga penerima manfaat.

Sumur Bor Kurangi Krisis Air Bersih di Pemukiman dan Sekolah

Di sektor air bersih, satgas membangun 10 titik sumur bor dan 10 unit MCK yang tersebar di Kecamatan Sipora Selatan dan Sipora Utara. Empat titik strategis di antaranya berlokasi di Yayasan Santo Yosef Dusun Sioban, SDN 27 Beriulou, Kantor Desa Bosua, serta pemukiman warga di Nemnem Leleu Utara.

Tim peneliti yang turun ke lapangan sempat melihat langsung para murid SD menggunakan fasilitas sumur bor untuk mencuci tangan dan membasuh wajah. Seorang warga penerima manfaat di Yayasan Santo Yosef menyampaikan rasa syukurnya atas bantuan yang diberikan TNI AD. "Dengan adanya sumur bor, kami merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan air yang ada di lingkungan gereja," tuturnya.

Sinergi TNI dan Akademisi Dorong Pembangunan Berkelanjutan

Kolaborasi antara UPI dan SeskoAD dinilai menjadi nilai tambah dalam mengidentifikasi faktor keberhasilan program, termasuk tingkat partisipasi masyarakat dan kearifan lokal. Riko Arrasyid, M.Pd., anggota tim peneliti UPI, menyoroti kuatnya modal sosial di lapangan. "Kami melihat semangat gotong royong yang kuat antara TNI dan masyarakat. Ini adalah modal sosial yang sangat penting untuk keberlanjutan program ke depan," tambahnya.

Selain infrastruktur, program nonfisik juga digelar, meliputi operasi katarak, sunatan massal, pengobatan gratis, pembagian 1.500 paket sembako, hingga sosialisasi bela negara. Rehabilitasi juga menyentuh 10 unit Rumah Tidak Layak Huni, satu mushola, satu gereja, dan satu sekolah.

Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana, mengapresiasi kontribusi TNI AD dalam program ini. Menurutnya, kolaborasi antara TNI, akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadikan Karya Bakti 2026 sebagai contoh nyata pembangunan yang tidak hanya fisik, tetapi juga berbasis riset dan berkelanjutan.

Reporter: Ronal Siregar
Sumber: fajarsumbar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top