PADANG — Muhidi menilai fungsi masjid perlu diperluas melampaui kegiatan ibadah rutin. Rumah ibadah, katanya, bisa menjadi sarana pendidikan keagamaan, pembentukan kepribadian, dan penanaman nilai positif bagi anak-anak. Pandangan itu ia sampaikan di hadapan peserta Bimtek yang membahas Konvensi Hak Anak dan konsep Rumah Ibadah Ramah Anak (RIRA).
Konsep RIRA menempatkan anak sebagai bagian dari kehidupan masjid, bukan pengunjung yang sekadar ikut salat. Muhidi menyebut rumah ibadah harus menciptakan suasana aman dan nyaman bagi anak. Dari situ, anak bisa belajar memahami ajaran agama, menghargai orang lain, serta mengembangkan sikap peduli dan bertanggung jawab dalam keseharian.
Penerapan konsep tersebut dinilai semakin relevan di tengah tantangan mendidik generasi muda yang terus berubah. Muhidi menekankan bahwa pendekatan terhadap anak tidak bisa disamakan dengan pendekatan terhadap orang dewasa.
Sejumlah aspek teknis perlu dibenahi agar masjid benar-benar ramah anak. Muhidi menyebut kebersihan, keamanan, dan kenyamanan fasilitas sebagai hal yang mesti diperhatikan pengelola. Kegiatan keagamaan juga hendaknya dirancang sesuai tahap perkembangan anak, tanpa mengabaikan ketertiban dan kesucian tempat ibadah.
Lingkungan yang mendukung diharapkan menumbuhkan ketertarikan anak terhadap kegiatan ibadah. Dampaknya tidak berhenti di situ: pendidikan karakter berbasis nilai agama ikut menguat.
Keberhasilan program ini tidak bisa bergantung pada pengurus masjid saja. Muhidi menegaskan perlunya keterlibatan keluarga dan masyarakat agar anak memperoleh perlindungan, perhatian, serta pendampingan yang memadai. Sinergi ketiga pihak menjadi kunci di lingkungan keluarga maupun kehidupan sosial dan keagamaan.
Bimtek Konvensi Hak Anak sendiri digelar untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pengelola rumah ibadah. Peserta dibekali pemahaman soal pemenuhan hak anak dan perlindungan yang sesuai kebutuhan mereka.
Muhidi berharap penguatan fungsi masjid sebagai ruang ramah anak menunjang tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Aspek fisik, mental, spiritual, dan sosial dinilai perlu berjalan seiring. Ia optimistis kerja sama yang konsisten antara pengurus masjid, keluarga, dan masyarakat bisa membentuk generasi Sumatera Barat yang religius, berakhlak mulia, serta peduli terhadap sesama.