Pencarian

Tokoh Muslim China Usulkan Aksara Jawi Hiasi Jam Gadang Bukittinggi, Perkuat Identitas Islam Minangkabau

Sabtu, 13 Juni 2026 • 14:14:01 WIB
Tokoh Muslim China Usulkan Aksara Jawi Hiasi Jam Gadang Bukittinggi, Perkuat Identitas Islam Minangkabau
Prof. Yusuf Liu Baojan usulkan aksara Jawi menghiasi Jam Gadang sebagai wujud identitas Islam Minangkabau.

BUKITTINGGI — Sebuah usulan yang memadukan warisan budaya dan spiritualitas Islam datang dari tokoh Muslim Tiongkok untuk ikon wisata Sumatera Barat. Prof. Aj. Yusuf Liu Baojan, Presiden Dunia Islam-Melayu (DMDI) cabang Tiongkok, mengajukan ide menghiasi Jam Gadang dengan aksara Jawi (Arab-Melayu).

Dalam siaran pers yang diterima pada 12 Juni 2026, Prof. Yusuf menyarankan agar nama “Jam Gadang” dan falsafah Minangkabau “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (Tradisi berdasarkan Hukum Islam, Hukum Islam berdasarkan Al-Quran) dituliskan dalam kaligrafi Jawi yang indah di landmark tersebut. Ia menilai sentuhan artistik ini selaras dengan bahasa lokal kuno dan nilai-nilai tradisional, sekaligus mencerminkan peradaban Islam yang telah lama berlabuh di Sumatera Barat.

Mengembalikan Aksara Leluhur ke Ruang Publik

Usulan ini bukan sekadar hiasan dekoratif. Menurut Prof. Yusuf, integrasi aksara Jawi membawa makna sejarah yang kuat, berfungsi sebagai jembatan menuju memori kolektif masyarakat. Selama berabad-abad, aksara Arab-Melayu menjadi wahana utama sastra, diplomasi, perdagangan, dan penyebaran ilmu di Nusantara sebelum digantikan abjad Latin.

“Dengan mengembalikan naskah ini ke ruang publik, Jam Gadang tidak hanya akan meningkatkan resonansi spiritualnya sebagai tujuan wisata tetapi juga berubah menjadi magnet baru bagi wisatawan internasional—khususnya dari diaspora Melayu dan Timur Tengah—yang mencari warisan budaya yang autentik,” tulis Prof. Yusuf dalam pernyataannya.

Sketsa Desain Sudah Disiapkan

Menunjukkan keseriusan usulannya, Prof. Yusuf telah menyusun sketsa desain kaligrafi khusus yang bisa dijadikan cetak biru awal bagi pemerintah daerah. Ia berharap rancangan fisik ini memperkuat argumen bahwa modernisasi perkotaan tidak perlu mengorbankan akar leluhur, melainkan kemajuan dan warisan dapat hidup berdampingan.

Gagasan tersebut muncul saat Prof. Yusuf menggelar pameran tunggal kaligrafi di ajang IMFL-4. Selama berada di Bukittinggi, ia didampingi sejumlah akademisi, antara lain Dr. Irwandi (Kepala Pusat Hubungan Internasional UIN Bukittinggi), Dr. Albert Nashir (dosen Universitas Deztron Indonesia), dan Ali Rahman, MH (Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Bukittinggi). Mereka bersama-sama mengevaluasi potensi dampak pelestarian ini terhadap ekosistem ekonomi kreatif lokal.

Menanti Dialog dengan Pemkot Bukittinggi

Prof. Yusuf berharap visi ini akan memicu dialog lebih lanjut di antara para pengambil kebijakan dan departemen kota terkait di Bukittinggi. Jika terealisasi, Jam Gadang tidak lagi sekadar pencatat waktu mekanis, melainkan bertransformasi menjadi monumen hidup yang menyiarkan harmoni tradisi, budaya, dan nilai ketuhanan ke panggung global.

Bagikan
Sumber: jurnalsumbar.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks