Bantuan Minyak Goreng Pemerintah di Sragen Diwarnai Keluhan Bau Solar, Warga Alami Gangguan Tenggorokan

Penulis: Ronal Siregar  •  Senin, 29 Juni 2026 | 20:12:01 WIB
Warga Sragen mengeluhkan bau minyak goreng bantuan sosial yang menyerupai solar.

SUMATERA BARAT — Bantuan pangan yang seharusnya meringankan beban warga justru memicu keresahan di Kabupaten Sragen. Keluhan datang dari penerima bantuan sosial di Desa Gading dan Desa Karangtalun, Kecamatan Tanon, yang mendapati minyak goreng MinyaKita dalam paket bansos memiliki aroma tidak lazim.

Warga Alami Gangguan Kesehatan Usai Konsumsi

Miyatun (40), warga Dukuh Karang, Desa Gading, mengaku terkejut saat membuka kemasan minyak tersebut. Ia mengatakan, selain baunya yang mirip solar, hasil gorengan menjadi berbau apek dan tidak layak konsumsi.

“Minyak gorengnya bau kayak solar terus buat goreng tahu rasanya tidak enak, apek, gorengan jahit dan di tengorokan terasa serak bikin batuk,” kata Miyatun kepada wartawan, Sabtu (27/6/2026).

Keluhan serupa disampaikan Hartono, warga Dukuh Grigit, Desa Karangtalun. Ia mendesak pemerintah segera bertindak karena bantuan yang diterima justru membahayakan kesehatan. “Bau kayak solar atau minyak tanah, kalau buat goreng tempe atau tahu sangat terasa dan tidak nyaman di tenggorokan,” ujarnya.

Warna Keruh dan Tekstur Tak Wajar

Selain aroma menyengat, sejumlah penerima manfaat juga menyoroti kualitas fisik minyak. Warga menyebut warna minyak lebih keruh dibandingkan minyak goreng pada umumnya yang cenderung bening kekuningan. Beberapa di antaranya juga mencium bau seperti bensin saat kemasan pertama kali dibuka.

“Harga minya tersebut kalau di pasaran sekitar 21 ribu per liternya, kalau bantuan ini warna minyaknya selain bau juga terlihat keruh,” ujar seorang warga di Kelurahan Karangtalun.

Pemerintah Kecamatan Akui Ada Laporan Berantai

Camat Tanon, Rinaldhy Arief Wicaksono, membenarkan adanya laporan dari warga terkait minyak goreng bansos yang bermasalah. Ia mengatakan, keluhan pertama kali muncul dari Desa Kalikobok sebelum akhirnya meluas ke desa-desa lain di wilayahnya.

“Awalnya di desa Kalikobok, terus menyusul desa-desa lainnya. Ketahuannya setelah dibuka dan buat masak baru ketahuan,” kata Rinaldhy saat dihubungi.

Kasus ini menjadi perhatian karena merupakan rangkaian kejadian serupa di Soloraya. Sebelum Sragen, warga di Kabupaten Klaten, Wonogiri, dan Karanganyar lebih dulu melaporkan temuan minyak goreng bau solar dalam bansos. Warga di Sragen kini mendesak pemerintah melakukan pengecekan kualitas, mengganti produk yang diduga cacat, serta memperketat pengawasan distribusi agar kejadian serupa tak terulang.

Reporter: Ronal Siregar
Sumber: lintassolorayanews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top