SUMATERA BARAT — Rumor kehadiran SUV off-road andalan BMW untuk melawan G-Wagen rupanya masih jauh dari kepastian. Sebuah laporan dari BMW Blog yang dirangkum dalam The Downshift (TDS), Rabu (29/7/2026), mengungkapkan bahwa proyek tersebut belum mendapatkan persetujuan akhir (final approval) dari manajemen BMW. Jika dalam dua tahun ke depan tidak ada realisasi, besar kemungkinan proyek ini akan lenyap tanpa pengumuman resmi.
Sumber anonim yang mengetahui program ini mengungkapkan bahwa proyek tersebut telah mengalami perubahan arsitektur yang signifikan. Awalnya dirancang sebagai kendaraan listrik murni (full EV), platformnya kemudian bergeser ke basis yang sama dengan BMW X5 terbaru.
Pergeseran ini membuka opsi penambahan powertrain plug-in hybrid (PHEV) pada SUV tangguh tersebut. Namun, perubahan fundamental ini justru menandakan bahwa BMW masih gamang menentukan arah produk di segmen off-road premium yang saat ini didominasi G-Class dan Land Rover Defender.
Di sisi lain, BMW juga menghadapi tekanan bisnis yang berat. Pabrikan berencana memangkas beberapa ribu pekerjaan di Jerman melalui program voluntary buyout (pembelian sukarela) hingga akhir 2027. Langkah ini diambil karena alasan yang sama dengan pabrikan Jerman lainnya: perlambatan penjualan di China dan tekanan biaya akibat tantangan geopolitik serta rantai pasok.
Keputusan ini menunjukkan bahwa BMW sedang dalam mode efisiensi ketat, yang bisa menjadi alasan kuat mengapa proyek ambisius seperti SUV off-road G-Class fighter belum kunjung direalisasikan.
Selain kabar BMW, sejumlah berita penting lain mewarnai industri otomotif global. Ford misalnya, melakukan recall terhadap hampir 80.000 unit Explorer dan Lincoln Aviator. Masalahnya terletak pada sandaran kursi depan yang bisa turun terlalu jauh akibat glitch memori kursi, berpotensi menjepit penumpang baris kedua.
Sementara itu, Toyota Kanada mencatatkan angka elektrifikasi yang impresif. Sebanyak 65 persen mobil yang terjual di Kanada pada semester I 2026 adalah kendaraan elektrifikasi—baik EV murni, PHEV, maupun hybrid konvensional. Angka ini naik 14 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, Lamborghini melaporkan penurunan laba operasional sebesar 8 persen pada semester I 2026. Penyebabnya adalah tarif impor AS dan nilai tukar yang tidak menguntungkan. Sedangkan Audi menghadapi protes dari 6.000 pekerja di pabrik Neckarsulm menyusul rencana Volkswagen Group yang mengindikasikan penutupan pabrik tersebut pada 2030.