SUMATERA BARAT — Pertanian di dataran tinggi selalu punya musuh utama: cuaca. Di kawasan Kamojang yang kerap diguyur hujan dan minim sinar matahari, para petani dulu harus menunggu berminggu-minggu hanya untuk mengeringkan pupuk organik. Kondisi itu membuat produksi pupuk berjalan lambat dan biaya membengkak.
Kondisi itulah yang mendorong PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), menghadirkan solusi berbasis energi terbarukan. Lewat program Desa Energi Berdikari (DEB), Kelompok Tani Hutan Cikondang di Kampung Kamojang, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, kini memiliki pupuk organik buatan sendiri bernama GeO-Fert.
Inovasi GeO-Fert terbilang sederhana namun efektif. Limbah pertanian dan rumah tangga diolah menjadi pupuk organik padat dan cair dengan bantuan uap panas bumi bersuhu 60–70 derajat Celcius dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang. Panas alami ini menggantikan ketergantungan pada sinar matahari yang tidak menentu.
Sebelumnya, proses pengeringan pupuk bisa memakan waktu dua minggu hingga satu bulan. Bahkan total produksi dua ton butuh waktu dua bulan. "Dulu pembuatan pupuk itu bisa sampai 2 bulan untuk produksi sekitar 2 ton. Permasalahan utamanya di pengeringan. Biasanya 2 minggu sampai 1 bulan karena sering hujan," ujar Hendro Gunawan, Local Hero Kelompok Tani Hutan Cikondang, di Jakarta, Jumat (28/8).
Kini, berkat kolaborasi dengan PGE Area Kamojang, pengeringan 5 kuintal pupuk hanya membutuhkan waktu 12 jam. Efisiensi ini melonjakkan kapasitas produksi hingga 70-75 persen dibanding metode konvensional. "Jadi kita benar-benar pupuk ini selain dari pupuk organik, kita juga menggunakan energi yang bersih," kata Hendro.
Dampak program ini langsung dirasakan oleh 163 petani penerima manfaat langsung dan 653 petani lainnya secara tidak langsung. Mereka terdiri dari 51 petani pengelola aktif Kelompok Tani Hutan Blok Cikondang dan 32 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekarsari.
Dengan kemampuan memproduksi pupuk secara mandiri, para petani tidak perlu lagi bergantung pada pupuk bersubsidi yang aksesnya terbatas atau pupuk kimia yang harganya tinggi. Penghematan biaya pembelian pupuk mencapai Rp 26 juta per tahun. Hasil panen berbagai komoditas seperti daun bawang, kentang, kubis, kopi, dan kacang panjang ikut meningkat 50-75 persen.
Program ini juga membawa dampak lingkungan yang signifikan. Inovasi tersebut berhasil menurunkan emisi karbon hingga 24.783 ton CO2 ekuivalen per tahun dan menghindari penggunaan bahan bakar fosil hingga 0,085 ktoe per tahun.
Kamojang dikenal sebagai salah satu lumbung pertanian Jawa Barat dengan kapasitas PLTP mencapai 235 MW. Sekitar 85 persen masyarakat di wilayah ini menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Kehadiran GeO-Fert menjadi jembatan yang menghubungkan dua sektor vital: energi terbarukan dan ketahanan pangan.
Program Desa Energi Berdikari sendiri merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina. Inisiatif ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), penerapan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG), serta aspirasi Net Zero Emission 2060 melalui pemberdayaan masyarakat berbasis energi terbarukan.
Ke depannya, kapasitas produksi pupuk organik di Kamojang masih berpotensi meningkat seiring penambahan bak fermentasi. Langkah ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya soal pembangkit listrik, tetapi juga tentang menghidupkan ekonomi di akar rumput.