SUMATERA BARAT — Ketua Tim Penggerak PKK Trenggalek sekaligus anggota DPR RI Dapil VII Jawa Timur, Novita Hardini, menyebut momentum kirab pusaka menjadi ruang interaksi langsung dengan warga yang selama dua tahun terakhir terbatas. Ia mengakui kondisi sebelumnya membuatnya tidak leluasa menyapa masyarakat seperti kebiasaan tahun-tahun sebelumnya.
"Alhamdulillah ini kali pertama kita kembali lagi melaksanakan adat untuk bisa berkeliling menyapa masyarakat. Karena di tahun yang lalu akibat situasi dan kondisi, saya terbatas untuk menyapa warga seperti biasanya," ujarnya.
Novita menekankan bahwa prosesi yang digelar dalam rangka memperingati bertambahnya usia Kabupaten Trenggalek ini membawa dimensi yang lebih dalam dari sekadar kemeriahan seremonial. Ia menyebut rangkaian adat itu menjadi sarana permohonan doa bagi keselamatan daerah yang kerap menghadapi tantangan bencana.
"Yang paling penting, prosesi ini tidak hanya perayaan, tetapi sebuah ritual, sebuah langkah spiritual untuk bisa membawa doa-doa menyelamatkan Trenggalek dari marabahaya, bencana, kekeringan dan kemiskinan," jelasnya.
Harapan yang sama ia sampaikan untuk masa depan daerah. Antusiasme warga yang berjajar di sepanjang rute kirab, menurut Novita, adalah energi yang semestinya diterjemahkan menjadi semangat kolektif membangun Trenggalek.
"Harapan saya ini bisa membawa semangat seluruh masyarakat Trenggalek untuk bisa menyongsong masa depan yang lebih baik untuk Kabupaten Trenggalek," katanya.
Sebelum kirab digelar, pusaka Kabupaten Trenggalek dan pusaka milik Bupati Trenggalek lebih dulu menjalani penjamasan atau penyucian dua hari sebelumnya. Tahapan itu menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian adat peringatan hari jadi.
Usai penjamasan, kedua pusaka dibawa dalam prosesi bedol desa menuju lokasi berbeda. Pusaka kabupaten diboyong ke Balai Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, lokasi Prasasti Kamulan yang menjadi penanda sejarah berdirinya Trenggalek. Sementara pusaka milik Bupati Trenggalek dibawa ke Balai Desa Karangrejo, Kecamatan Kampak.
Setelah seluruh rangkaian prosesi di kedua lokasi itu rampung, pusaka kemudian dikembalikan ke Pendopo Manggala Praja Nugraha.
Novita berharap rangkaian Hari Jadi ke-832 Trenggalek tidak berhenti pada perayaan semata, melainkan menjadi titik tolak penguatan kebersamaan warga dalam menghadapi tantangan pembangunan daerah ke depan.
"Dan kami berharap Hari Jadi 832 Trenggalek ini dimudahkan oleh Allah SWT untuk bisa mencapai Kabupaten Trenggalek yang sentosa, sejahtera dan abadi," pungkasnya.