Pencarian

Valuasi Antam Cuma 7 Kali Laba, Dividen 11 Persen — Investor Mulai Melirik Lagi

Rabu, 10 Juni 2026 • 19:13:31 WIB
Valuasi Antam Cuma 7 Kali Laba, Dividen 11 Persen — Investor Mulai Melirik Lagi
Investor domestik mulai memanfaatkan valuasi murah saham Antam pasca tekanan jual asing.

SUMATERA BARAT — Tekanan jual asing terhadap saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) belum mereda. Sepanjang 2026, investor asing tercatat melego saham ini dengan total bersih sekitar Rp3,9 triliun. Puncaknya terjadi pada awal Juni 2026, ketika Antam resmi dikeluarkan dari indeks MSCI Small Cap.

Pada 3 Juni, harga saham Antam sempat ambles 11,82 persen ke level 2.610. Namun perlahan pulih ke posisi 2.800 pada 10 Juni. Yang menarik, kenaikan itu bukan karena asing kembali masuk, melainkan karena investor domestik mulai memanfaatkan murahnya valuasi.

Data perdagangan menunjukkan pola jual asing yang konsisten: net sell Rp106 miliar pada 3 Juni, Rp99 miliar pada 4 Juni, Rp169 miliar pada 5 Juni, dan Rp132 miliar pada 8 Juni. Bahkan ketika harga melonjak 14 persen ke 2.880 pada 9 Juni, asing masih mencatat penjualan bersih Rp6 miliar.

Valuasi Murah, Dividen Jumbo

Di tengah tekanan itu, valuasi Antam kini berada di level yang sulit diabaikan. Dengan PER 7 kali, saham ini diperdagangkan dengan diskon besar dibanding rata-rata perusahaan tambang logam global. Jika valuasi kembali ke level 10 kali PER — asumsi konservatif — harga wajar Antam diperkirakan mencapai Rp4.000 per saham.

Potensi dividen juga menjadi daya tarik lain. Dengan yield 10-11 persen, angka ini jauh di atas rata-rata deposito maupun mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia. Bagi investor jangka panjang, kombinasi valuasi rendah dan dividen tinggi menjadi sinyal value trap atau justru peluang.

Katalis dari Danantara dan Komoditas

Antam juga memiliki cerita besar yang belum berubah: eksposur terhadap emas, nikel, dan bauksit. Ketiga komoditas ini masih menjadi tulang punggung rantai pasok industri global, terutama untuk kendaraan listrik dan energi baru.

Keberadaan Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia membuat Antam kerap disebut sebagai proxy investasi pemerintah di sektor sumber daya alam strategis. Status ini memperkuat persepsi bahwa perusahaan tetap memiliki posisi penting dalam agenda hilirisasi nasional.

Risiko Masih Ada, Tapi Sudah Tercermin?

Tentu tidak semua mulus. Kebijakan pertambangan yang berubah-ubah dan potensi penurunan harga jual rata-rata komoditas akibat perlambatan ekonomi global tetap menjadi risiko. Namun dengan valuasi yang sudah terdiskon dalam, banyak analis menilai sebagian besar risiko sudah tercermin di harga saham.

Jika MSCI kembali memasukkan Antam ke dalam indeksnya atau sentimen terhadap pasar Indonesia membaik, masuknya kembali dana asing bisa menjadi katalis positif yang signifikan. Untuk saat ini, investor domestik tampak lebih dulu mengambil posisi.

Bagikan
Sumber: kabarbursa.com

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks