SUMATERA BARAT — Wacana pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional kembali menguat, dan kali ini sorotan tertuju pada rantai pasok bahan bakunya. Beniyanto Tamoreka, legislator Komisi XII DPR RI, menegaskan bahwa hilirisasi mineral, khususnya nikel, adalah fondasi yang tidak bisa ditawar lagi untuk membuat industri motor listrik Tanah Air berdaya saing tinggi. Ia menyebut kebijakan ini bukan sekadar soal produksi, melainkan pembangunan rantai nilai industri yang menyeluruh.
"Dengan memanfaatkan baterai berbasis nikel produksi nasional, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik dunia. Inilah esensi hilirisasi, yakni menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih besar melalui industrialisasi berbasis sumber daya alam nasional," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Selasa (4/8/2026).
Sinergi dari Tambang hingga Infrastruktur Pengisian Daya
Menurut Beniyanto, keberhasilan program motor listrik nasional tidak bisa berhenti pada perakitan kendaraan. Pemerintah harus memastikan ekosistem pendukungnya tumbuh paralel, mulai dari ketersediaan bahan baku, perluasan kapasitas pabrik baterai, hingga pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Iklim investasi yang memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha juga menjadi prasyarat agar industri mampu tumbuh berkelanjutan.
Langkah ini diyakini akan memberi dampak berganda bagi perekonomian. Selain mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak impor, pengembangan industri ini diproyeksikan menyerap tenaga kerja baru dan memperkuat sektor manufaktur dalam negeri.
Daerah Penghasil Nikel Jadi Garda Terdepan
Keuntungan dari kebijakan ini tidak hanya dinikmati di tingkat nasional. Daerah-daerah seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya disebut akan menjadi bagian krusial dalam rantai pasok global. Mulai dari aktivitas pertambangan, pengolahan dan pemurnian mineral, hingga produksi material baterai, semua membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru di wilayah tersebut.
Legislator asal daerah pemilihan Sulawesi Tengah itu menambahkan, hilirisasi diharapkan mampu mendorong pemerataan ekonomi. "Hilirisasi tidak hanya menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, tetapi juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat di sekitar kawasan industri," jelasnya.
Komisi XII DPR RI berkomitmen mendukung penuh kebijakan pemerintah yang memperkuat hilirisasi dan transisi energi ini. Beniyanto menutup pernyataannya dengan harapan agar program motor listrik nasional menjadi momentum strategis, tidak hanya untuk kemandirian industri, tetapi juga untuk mengukuhkan posisi Indonesia di peta industri baterai dan kendaraan listrik dunia.