Pencarian

Pendapatan Xiaomi Anjlok 17 Persen di Q2-2026, Kenaikan Harga Komponen Memori Jadi Biang Keroknya

Selasa, 11 Agustus 2026 • 01:19:01 WIB
Pendapatan Xiaomi Anjlok 17 Persen di Q2-2026, Kenaikan Harga Komponen Memori Jadi Biang Keroknya
Pendapatan Xiaomi pada Q2-2026 turun 17 persen secara tahunan akibat kenaikan harga komponen memori.

SUMATERA BARAT — Laporan terbaru Counterpoint Research mengungkapkan bahwa tiga merek asal China—Xiaomi, Oppo, dan Vivo—mengalami penurunan pendapatan sepanjang Q2-2026. Xiaomi menjadi korban paling besar dengan pengiriman unit yang merosot hingga 26 persen, sementara pendapatan ikut tergerus 17 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Yang menarik, penurunan ini terjadi di tengah kenaikan average selling price (ASP) Xiaomi sebesar 13 persen. Artinya, harga HP Xiaomi justru naik, tetapi jumlah unit yang terjual jauh lebih sedikit.

Mengapa Kenaikan Harga Justru Membuat Penjualan Anjlok?

Counterpoint menilai akar masalahnya ada pada ketergantungan Xiaomi terhadap pasar entry-level dan kelas menengah. Dua segmen ini adalah yang paling sensitif terhadap perubahan harga. Ketika biaya produksi naik akibat mahalnya komponen memori, Xiaomi menaikkan harga jual untuk menjaga margin. Namun, keputusan itu justru membuat permintaan turun lebih cepat daripada kemampuan ASP untuk menutup selisih volume.

Kondisi serupa dialami Oppo dan Vivo. Pendapatan Oppo turun 10 persen, sementara Vivo turun 11 persen secara tahunan. ASP Oppo naik 9 persen dan Vivo naik 13 persen, tetapi tetap tidak mampu mengimbangi penurunan jumlah perangkat yang terjual. Keduanya masih memiliki eksposur besar terhadap konsumen yang peka harga.

Naiknya ASP ketiga merek ini juga dipengaruhi pergeseran komposisi penjualan. Melemahnya permintaan perangkat murah membuat porsi penjualan otomatis bergeser ke produk dengan harga lebih mahal, sehingga rata-rata harga jual terdongkrak secara statistik.

Xiaomi Ubah Strategi: Kejar Profit, Bukan Volume

Menghadapi tekanan ini, Xiaomi mulai mengubah arah. Perusahaan kini lebih mementingkan profitabilitas daripada mengejar volume penjualan. Strateginya mencakup perampingan portofolio produk, penyesuaian harga pada sejumlah model, serta fokus yang lebih besar ke segmen upper mid-range dan premium yang menawarkan margin lebih sehat.

Langkah ini memang berisiko mengurangi pangsa pasar di segmen entry-level, tetapi menjadi pilihan rasional di tengah biaya komponen yang terus meningkat.

Apple dan Samsung Justru Tumbuh, Ini Alasannya

Nasib berbeda dialami dua pemain global. Apple mencatat pendapatan iPhone naik 22 persen dan pengiriman tumbuh 13 persen secara tahunan. Apple bahkan menguasai 49 persen dari total pendapatan pasar smartphone global—rekor tertinggi untuk kuartal kedua.

Research Director Counterpoint Research, Tarun Pathak, menjelaskan bahwa Apple sejauh ini masih mempertahankan harga iPhone relatif stabil, berbeda dengan vendor lain yang menaikkan harga secara agresif. Kemampuan menyerap kenaikan biaya produksi membuat Apple lebih terlindungi dari krisis memori, sekaligus membuat iPhone terlihat semakin kompetitif ketika HP Android di sekitarnya naik harga.

"Apple kemungkinan akan menaikkan harga dalam beberapa kuartal mendatang," ujar Pathak.

Samsung juga mencatat pertumbuhan dengan pendapatan dan pengiriman naik 9 persen secara tahunan, menguasai 16 persen pangsa pendapatan global. Permintaan stabil Galaxy A Series dan momentum Galaxy S26 Series di kelas flagship menjadi penopang utama. Samsung diuntungkan integrasi vertikal yang memberi kontrol lebih baik atas pasokan komponen, sehingga bisa menahan kenaikan biaya dan menjaga harga jual rata-rata tetap stabil.

Total Pasar Smartphone Global Cetak Rekor Baru

Secara keseluruhan, total pendapatan pasar smartphone global naik 7 persen YoY pada Q2-2026, mencapai USD 109 miliar (sekitar Rp 1.936 triliun). Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah untuk kuartal kedua.

Bagi konsumen Indonesia yang tengah mempertimbangkan membeli HP baru, kondisi ini berarti harga perangkat—terutama dari merek China—berpotensi terus naik dalam beberapa bulan ke depan. Menunggu harga turun mungkin bukan pilihan bijak, mengingat tekanan biaya komponen diprediksi masih berlanjut.

Follow www.inisumbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: uzone.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks