SUMATERA BARAT — Pabrikan asal Korea Selatan itu menggelar seremoni perayaan di fasilitas perakitan Izmit pada Jumat pekan lalu. Peluncuran produksi ini menandai investasi besar senilai 250 juta euro atau sekitar Rp 4,6 triliun yang digelontorkan Hyundai untuk mengubah pabrik tersebut menjadi lini perakitan kendaraan listrik.
IONIQ 3 menjadi model listrik pertama yang keluar dari pabrik tersebut. Hyundai menargetkan kapasitas produksi awal sebanyak 30.000 unit per tahun, dengan sekitar 50 persen area pabrik telah dimodernisasi untuk kebutuhan EV.
Posisi Strategis di Segmen B yang Sedang Naik Daun
Kehadiran IONIQ 3 bukan tanpa alasan. Hyundai melihat celah besar di segmen B Eropa yang menyumbang sekitar 15 persen total penjualan mobil di kawasan tersebut. Saat ini, porsi kendaraan listrik di segmen ini baru mencapai 14 persen, namun diperkirakan melonjak hingga 65 persen pada 2035.
Dengan dimensi panjang 4.155 mm dan jarak sumbu roda 2.680 mm, hatchback ini sedikit lebih kecil dari Kia EV3. Meski mungil, Hyundai mengklaim kapasitas bagasinya mencapai 441 liter, angka yang disebut bakal menjadi tolok ukur baru di kelasnya.
Dua Pilihan Baterai dengan Kemampuan Fast Charging
Hyundai memasarkan IONIQ 3 dalam dua varian baterai. Pertama, paket 42,2 kWh yang mampu menempuh jarak hingga 344 kilometer dalam siklus WLTP. Kedua, baterai 61 kWh yang diklaim memberikan jarak tempuh "terbaik di kelasnya" yakni 496 kilometer.
Untuk pengisian daya, varian standar dengan baterai 42,2 kWh hanya butuh sekitar 29 menit untuk mengisi dari 10 persen ke 80 persen menggunakan DC fast charging. Sementara varian jarak jauh membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk kondisi serupa.
Pertama di Eropa: Sistem Operasi Android Auto dan AI Companion
IONIQ 3 menjadi kendaraan Hyundai pertama di Eropa yang mengusung sistem operasi anyar bernama Pleos. Berbasis Android Automotive OS, sistem ini bekerja layaknya smartphone dengan layar sentuh berukuran 12,9 inci atau 14,6 inci sebagai opsional, plus layar instrumen digital untuk pengemudi.
Hyundai juga menyematkan Gleo AI, asisten virtual baru yang menjadi pendamping pengguna di dalam kabin. Fitur ini menegaskan ambisi Hyundai membawa pengalaman digital setara ponsel ke dalam mobil listrik kompaknya.
Harga dan Ketersediaan Pasar
Penjualan IONIQ 3 akan dimulai pada September mendatang, dengan peluncuran bertahap ke berbagai negara sepanjang tahun. Di Inggris, varian Standard Range terpampang di situs Vertu Motors dengan harga 22.245 poundsterling atau sekitar Rp 450 juta. Sementara di Belanda, banderolnya dimulai dari 27.995 euro atau sekitar Rp 480 juta.
Menariknya, Chief Executive Hyundai Motor Group, Chung Euisun, sempat mengunjungi pabrik Izmit awal bulan ini untuk inspeksi langsung sebelum produksi massal dimulai. "Kita harus memprioritaskan kualitas sejak tahap awal produksi massal. Terkait keselamatan, kita harus memastikan kendaraan ini diakui sebagai kendaraan terbaik di Eropa," ujarnya kepada para karyawan di fasilitas tersebut.
Langkah Hyundai ini menjadi respons langsung atas tekanan kompetitif dari BYD yang terus menggerus pangsa pasar di Eropa. Dengan harga kompetitif dan spesifikasi yang agresif, IONIQ 3 diharapkan menjadi ujung tombak Hyundai dalam perang harga kendaraan listrik di Benua Biru.