SUMATERA BARAT — Pencabutan status peringatan ini menandai selesainya masa kritis pasca-gempa berkekuatan M7,7 yang berpusat di wilayah Mbay. Namun, dampak kerusakan dan korban jiwa akibat guncangan serta gelombang susulan masih dalam pendataan petugas di lapangan.
BMKG mencatat gelombang tsunami sempat terdeteksi di tiga titik pemantauan, yakni Sikka, Labuan Bajo, dan Dompu. Meski status telah normal, masyarakat pesisir diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan yang magnitudonya lebih kecil namun tetap berpotensi merusak bangunan yang sudah retak.
Rekor Gempa Besar 2026: 10 Kali M7+ dalam Delapan Bulan
Kejadian di NTT ini melengkapi deretan gempa besar yang mendominasi Cincin Api Pasifik sepanjang 2026. Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), mencatat telah terjadi 10 gempa dengan magnitudo di atas 7,0 hanya dalam kurun waktu kurang dari delapan bulan.
"Hanya dalam kurun waktu kurang dari delapan bulan, telah terjadi 10 peristiwa gempa dengan Magnitudo di atas 7," katanya kepada Liputan6.com, Rabu (12/8/2026).
Rentetan aktivitas seismik ini tersebar dari Asia Pasifik hingga pantai barat benua Amerika. Gempa Filipina M7,8 pada 7 Juni menjadi yang terbesar dalam seri ini, disusul Jepang M7,4 dan Laut Maluku M7,3. Sementara di kawasan Pasifik Selatan, Tonga dan Vanuatu masing-masing mencatatkan guncangan M7,5 dan M7,3 pada Maret.
Mengapa Indonesia Kini Berada di Titik Rentan
Daryono menjelaskan bahwa kejadian terbaru di Kolombia pada 10 Agustus dengan magnitudo M7,4 menjadi alarm nyata. Episentrum gempa-gempa besar ini sebagian besar tersebar di sepanjang tepi Pasifik, zona subduksi paling aktif di dunia akibat interaksi konvergensi lempeng tektonik utama.
"Secara seismologi, frekuensi 10 kali gempa M7+ hingga bulan Agustus mencerminkan fase pelepasan energi tektonik global yang sangat dinamis pada batas-batas lempeng aktif," ujarnya.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi peringatan serius. Negara ini berada tepat di persimpangan lempeng utama Cincin Api Pasifik dengan sejumlah zona kekosongan gempa (seismic gap) yang masih menyimpan akumulasi stres tinggi.
Segmen Megathrust yang Belum Lepas dan Kewaspadaan yang Diminta
Akumulasi stres pada segmen-segmen megathrust, seperti di lepas pantai Sumatera, selatan Jawa, hingga kawasan timur Indonesia, dinilai belum sepenuhnya terlepas. Kondisi ini menuntut penguatan mitigasi bencana yang berkelanjutan dan terstruktur.
"Peningkatan kewaspadaan publik, evaluasi keandalan infrastruktur tahan gempa, serta penguatan pemahaman akan simulasi evakuasi mandiri dan sistem peringatan dini menjadi kunci mutlak dalam meminimalkan dampak potensi guncangan kuat di masa mendatang," tegas Daryono.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada catatan pasti mengenai jumlah korban jiwa akibat gempa NTT. Pemerintah daerah bersama tim SAR masih melakukan evakuasi dan pendataan di wilayah terdampak, khususnya di Kabupaten Nagekeo dan sekitarnya.