SUMATERA BARAT — Pernyataan Sam Altman di ajang Bloomberg di sela-sela World Economic Forum (WEF) di Davos pekan lalu menjadi pengingat keras bagi industri teknologi. Di tengah euforia kemampuan ChatGPT yang meroket sejak 2022, bos OpenAI itu justru menyoroti masalah mendasar yang jarang dibahas publik: ketersediaan energi.
"Tidak ada jalan untuk sampai ke sana tanpa sebuah terobosan," ujar Altman menanggapi pertanyaan soal produksi energi, seperti dikutip dari TechRadar Pro. Kalimat ini merujuk pada kebutuhan daya yang nyaris tak terbayangkan untuk membangun dan menjalankan infrastruktur AI generasi berikutnya.
Konsumsi Listrik Pusat Data Diprediksi Tembus 945 TWh
Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan pusat data global bakal menyedot sekitar 945 TWh listrik pada 2030. Angka ini setara 3% dari total konsumsi listrik dunia dan sebagian besar didorong oleh kebutuhan komputasi AI.
Masalahnya, infrastruktur kelistrikan dunia saat ini belum siap menopang lonjakan permintaan tersebut. Altman pun mengaku bergantung pada harapan munculnya energi baru seperti fusi nuklir (fusion energy) dalam beberapa tahun ke depan untuk menutup celah ini.
Energi Jadi Hambatan Utama, Bukan Satu-satunya
Krisis listrik ini disebut sebagai salah satu bottleneck terbesar yang menghambat perusahaan AI untuk memperbesar skala operasi dan meningkatkan kualitas model. Tanpa lahan yang memiliki akses listrik memadai, mustahil membangun data center baru yang dibutuhkan untuk melatih model yang lebih cerdas.
Namun, energi hanyalah satu bagian dari teka-teki. Semakin banyak pusat data yang dibangun atau direncanakan, komponen pendukung lain ikut menjadi langka. Interconnect, komponen optik, dan memori kini mulai dirasakan sebagai pemicu keterlambatan pembangunan infrastruktur AI secara global.
Dua Musim Dingin AI dan Pelajaran yang Terlupakan
Perkembangan AI sendiri bukan tanpa hambatan. Sepanjang sejarahnya, teknologi ini sempat mengalami dua periode "AI winter" di mana pendanaan riset mengering. Salah satu pemicunya adalah daya komputasi yang dibutuhkan para ilmuwan belum tersedia pada zamannya.
Kini, situasi serupa terulang dalam skala lebih besar. Jika pasokan energi dan komponen keras tidak segera diatasi, kemampuan AI sulit melampaui level saat ini. Tanpa terobosan di sektor energi, janji AI untuk menyaingi inteligensi manusia hanya akan menjadi wacana tanpa realisasi.