Jumlah titik api di Sumatera Barat turun lebih dari 50 persen menjadi 103 titik pada periode 14-23 Agustus, setelah sebelumnya mencapai 232 titik pada 1-13 Agustus. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar Tasliatul Fuaddi meminta seluruh pemerintah daerah dan masyarakat menjaga tren penurunan ini di tengah puncak kemarau akibat El Nino yang diprediksi terjadi hingga September.
PADANG — Tren penurunan titik api di Sumatera Barat tercatat signifikan dalam sepuluh hari terakhir. Data Sipongi Gakkum Kehutanan menunjukkan angka 103 titik api pada 14-23 Agustus, berkurang drastis dibandingkan 232 titik pada periode 1-13 Agustus di wilayah yang sama.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar Tasliatul Fuaddi menyebut penurunan lebih dari 50 persen ini sebagai hasil kewaspadaan bersama. "Jumlah titik api di Sumbar mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan sebelumnya, kami berharap ini bisa dipertahankan," ujarnya di Padang, Senin.
Pesisir Selatan Masih Jadi Wilayah dengan Titik Api Terbanyak
Sebaran titik api pada periode 1-13 Agustus tercatat paling banyak di Pesisir Selatan. Wilayah lain yang turut mendominasi adalah Dharmasraya, Pasaman, Pasaman Barat, Sijunjung, dan Lima Puluh Kota.
Meski angka keseluruhan menurun, konsentrasi titik api di kabupaten-kabupaten tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar kejadian masih berlokasi di area perkebunan dan lahan gambut yang rawan terbakar saat kemarau.
Larangan Membakar Lahan dan Jerami Masih Berlaku
Pemprov Sumbar mengingatkan bahwa larangan membuka lahan dengan cara dibakar berlaku untuk seluruh wilayah, mengacu pada instruksi Menteri Dalam Negeri. Ketentuan ini mencakup larangan membakar sampah bagi warga dan larangan membakar jerami bagi petani usai panen.
Tasliatul Fuaddi juga mengingatkan warga yang beraktivitas di hutan, seperti berburu atau berladang, untuk tidak melakukan pembakaran atau membuang puntung rokok sembarangan. "Perlu upaya kita bersama dalam meningkatkan kewaspadaan, agar jumlah titik api di Sumbar tidak naik lagi," jelasnya.
Puncak Kemarau Diprediksi Terjadi Hingga September
Fenomena El Nino disebut menjadi pemicu utama kekeringan yang memperbesar potensi kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah provinsi memprediksi puncak dampak kemarau akan terjadi pada Agustus-September 2026, sehingga periode kritis belum sepenuhnya berlalu.
Dengan prediksi tersebut, pengawasan terhadap lahan kosong dan area gambut perlu diperketat. Masyarakat yang menemukan indikasi awal kebakaran diminta segera melapor ke aparatur setempat atau petugas kehutanan agar api dapat dipadamkan sebelum meluas.