SUMATERA BARAT — Pengujian tertutup The Duskbloods yang berlangsung akhir pekan kemarin justru meredam ekspektasi para penggemar PC. Alih-alih menampilkan formula multiplayer inovatif khas Hidetaka Miyazaki, game ini menyajikan pengalaman yang membingungkan dengan sederet masalah teknis yang mengganggu.
Masalah Teknis Dominasi Sesi Uji Coba
Input lag yang nyaris tidak bisa dimainkan menjadi keluhan utama, baik dalam mode docked maupun handheld di Switch 2. Pemain harus berjuang melawan kontrol dasar lebih lama dari seharusnya, yang secara drastis mengurangi kualitas pengalaman bermain.
Network test ini hanya menyediakan satu peta, enam karakter, dan tanpa opsi kustomisasi build. Mode solo queue menjadi satu-satunya pilihan, sementara tutorial pengenalan hanya ditampilkan sebagian. Kondisi ini jelas tidak dirancang untuk memberikan kesan pertama yang baik.
Sistem Virtue dan Mekanisme MOBA yang Gagal Padu
Inti permainan The Duskbloods sebenarnya sederhana: pemain membunuh monster (creep) untuk mengumpulkan poin Virtue dan naik level, sebelum akhirnya bertarung dalam team fight terakhir. Namun, eksekusinya terasa datar dan tanpa arah yang jelas.
Pertarungan PvP justru menjadi elemen paling tidak penting di sebagian besar durasi match. Memburu pemain lain hanya membuang waktu karena risikonya besar dengan imbalan yang minim. Strategi paling efektif justru bermain aman dengan farming monster, mirip speedrun game Souls biasa.
Pop-up tutorial yang muncul juga tidak membantu, dengan bahasa yang terlalu puitis dan membingungkan seperti "To obtain Virtue visit Sites of Ritual to pledge yourself on the Eve of the Third Moon before the final Bestowal." Kalimat ini memang terdengar khas FromSoftware, tapi tidak mempersiapkan pemain sama sekali untuk gameplay yang sebenarnya.
Konsep Kin dan Karakter Unik yang Kurang Dimaksimalkan
Salah satu ide menarik yang muncul adalah sistem Kin, rekrutan musuh yang bisa diajak bertarung. Karakter seperti Baritone yang menyanyikan lagu untuk memberikan buff pertahanan, atau Gargoyle yang bisa menyembuhkan, menunjukkan potensi besar yang sayangnya belum tergarap maksimal.
Namun, Kin ini justru sering menjadi bumerang dalam pertarungan PvP karena gerakannya yang lambat dan sering merusak penyergapan. Sementara itu, kemampuan unik karakter seperti Sniper Layla yang bisa mengeluarkan gatling gun dari dadanya, atau skill invisibility milik Trang Lanh, terasa sia-sia melawan monster yang menggunakan serangan area luas.
Kombinasi elemen-elemen ini membuat The Duskbloods terasa seperti game eksperimental dari era PlayStation 2, sebelum genre battle royale dan hero shooter mendefinisikan standar multiplayer modern.
Eksklusivitas Nintendo yang Kian Sulit Ditembus
Pernyataan terbaru Miyazaki mengindikasikan bahwa keterlibatan Nintendo sangat krusial dalam pengembangan game ini. Hal ini memperkuat spekulasi bahwa The Duskbloods akan menjadi eksklusif permanen, mengulangi nasib Bloodborne yang hingga kini tidak pernah hadir di PC.
Bagi pemain PC yang harus merogoh kocek sekitar Rp 8 jutaan untuk membeli Switch 2 demi satu game, hasil network test ini jelas tidak sepadan. Dengan performa teknis yang buruk dan desain gameplay yang belum matang, The Duskbloods saat ini jauh dari kata layak beli.
FromSoftware masih punya waktu untuk memperbaiki game ini sebelum rilis resmi. Namun, jika pengalaman di network test adalah gambaran dari apa yang akan datang, The Duskbloods berpotensi menjadi game FromSoftware pertama yang layak untuk dilewatkan begitu saja.