SOLOK SELATAN — Riska Syafitri tak pernah malu membantu ayahnya menambal ban di pinggir jalan. Ia bahkan kerap mengantar dan mengambil ban bekas menggunakan sepeda motor usai pulang sekolah. Kebiasaan itu terus ia jalani sejak duduk di bangku SMP hingga lulus SMA.
Perempuan berhijab itu baru saja menyelesaikan pendidikan di SMAN 1 Solok Selatan tahun ajaran 2025-2026. Prestasinya di sekolah konsisten: juara 1 di kelas 1 dan juara 2 di kelas 12.
Dari Pinggir Jalan ke Kampus Negeri
Joni Sabri, 49 tahun, sapaan akrabnya Sap Tumbok di kalangan sesama tukang ban, tak bisa menyembunyikan rasa haru saat ditemui di lokasi tambalannya, Kamis (2/7/2026).
"Alhamdulillah pak, iko karajo awaknyo (ini pekerjaan saya cuma), anak pertama saya lulus dan diterima di perguruan tinggi UIN Bukittinggi," ucapnya sambil menyeka keringat.
Riska adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ia tinggal bersama adik laki-lakinya dan ibunya, Rosmawati. Sejak kecil, kedua orang tuanya mengajarkan untuk selalu membantu pekerjaan ayah, tanpa pernah mengeluh.
"Kenapa Harus Malu dengan Keringat Ayah?"
Saat ditanya apakah ia merasa malu dengan pekerjaan ayahnya sebagai tukang tambal ban keliling, Riska menjawab singkat dan tegas.
"Kenapa harus malu? Keringat ayah jadi motivasi bagi saya," katanya.
Riska mengaku, cucuran keringat ayah yang bekerja banting tulang siang dan malam, tanpa kenal hujan atau panas, menjadi alasan ia terus bersemangat meraih cita-cita.
"Cita-Cita Saya Terkabulkan"
"Alhamdulillah, cita-cita saya terkabulkan bisa melanjutkan kuliah sebagai siswa undangan UIN Bukittinggi, walaupun keluarga saya cuma sebagai tukang tambal ban. Terima kasih Ayah," ucap Riska.
Ia bertekad membahagiakan kedua orang tuanya. "Cucuran keringat Ayah saya itu terbayar sudah. Saya bercita-cita ingin membahagiakan kedua orang tua saya," tutupnya.
Kisah Riska menjadi bukti bahwa latar belakang ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Dengan kerja keras dan dukungan keluarga, impian itu kini mulai terwujud.