BUKITTINGGI — Perkumpulan masyarakat dari Forum Peduli Canduang Koto Laweh (FPCKL) mempertanyakan perubahan metode pengerjaan beton pada Proyek Sabo Dam di Batang (Sungai) Jabua, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam. Proyek yang berfungsi sebagai tameng dari ancaman banjir bandang dan longsor susulan Gunung Marapi ini kini tengah dalam pengawasan ketat warga.
Perwakilan FPCKL, Budi Anda, Senin, mengatakan pihaknya menerima informasi bahwa proses pembetonan seharusnya menggunakan Beton Ready Mixed. Namun, berdasarkan pantauan di lapangan, kontraktor pelaksana justru menerapkan sistem Site Mixed atau adukan beton yang dicampur langsung di lokasi proyek.
Alasan Kontraktor Ganti Metode Pengecoran
Budi Anda menjelaskan, pertanyaan ini sempat disampaikan langsung kepada pihak kontraktor. Jawaban yang diterima adalah penggantian sistem adukan beton tersebut dikarenakan kondisi medan yang tidak bisa dilalui oleh mobil molen Ready Mixed.
"Hal ini pernah kami pertanyakan secara langsung kepada pihak kontraktor, mereka menyampaikan penggantian sistem adukan beton dikarenakan kondisi medan yang tidak bisa dilalui oleh mobil molen Ready Mixed," kata Budi Anda.
Menurutnya, jawaban tersebut perlu dipertanyakan kembali. Sebab, hasil pantauan FPCKL di lapangan menunjukkan kondisi medan sebenarnya masih dapat dilalui oleh mobil molen Ready Mixed minimal isi 3 meter kubik. Selain itu, FPCKL juga menyoroti adanya item pekerjaan pengecoran jalan inspeksi yang belum dilaksanakan oleh kontraktor.
Langkah FPCKL dan Respons Kontraktor
Menanggapi temuan ini, FPCKL telah menyampaikan surat tertulis secara langsung ke Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V. Tembusan surat tersebut juga dikirimkan ke Pemerintah Kabupaten Agam, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Konsultan Pengawas, dan Kuasa KSO PT. Subur Berkah selaku pelaksana proyek.
Menjawab sorotan tersebut, Penanggung Jawab Kualitas Konsultan KSO PT. Subur Berkah, Legino, memastikan pekerjaan tetap sesuai prosedur dan spesifikasi teknis. Ia menegaskan bahwa pengerjaan beton diperbolehkan menggunakan metode Ready Mixed maupun Site Mix.
"Proyek ini menggunakan metode Site Mixed di mana material seperti pasir, kerikil, semen, dan air dicampur dan diolah langsung di lokasi proyek sebelum dituangkan," kata Legino.
Jaminan Mutu Beton dan Keselamatan Kerja
Pihak kontraktor memastikan mutu beton yang dihasilkan tetap terjaga dan sesuai standar. Proyek Sabo Dam ini menggunakan mutu beton K-225. Sebelum pengecoran dilakukan, pihak proyek rutin mengambil sampel berbentuk silinder yang diuji di tiga tempat berbeda guna menjaga kualitas.
Tenaga Ahli K3 Kontraktor PT. Subur Berkah, Mashelrita, menambahkan terkait penggunaan material setempat seperti batu atau pasir lokal, pihaknya menegaskan bahwa penggunaannya harus melalui proses perizinan resmi terlebih dahulu. Karena pengurusan izin yang memakan waktu, kontraktor memilih menggunakan material dari supplier berizin yang sah demi kelancaran dan legalitas proyek.
Menjawab keluhan warga soal akses jalan, kontraktor menyebut jalur utama masyarakat yang terdampak proyek telah diperbaiki. Pihak pengembang juga telah membuatkan jalan akses sementara di sekitar lokasi agar aktivitas warga tetap berjalan lancar selama masa pengerjaan.
Standar keselamatan kerja bagi para pekerja maupun lingkungan sekitar juga dijaga secara ketat. Sepanjang proyek berjalan dari bulan Desember hingga saat ini, belum pernah terjadi insiden kecelakaan kerja berkat penerapan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan yang tinggi.
"Pihak kontraktor, konsultan pengawas, beserta jajaran BWS Sumatera V berkomitmen penuh untuk terus menjaga kualitas mutu bangunan serta keselamatan kerja demi menghindari dampak buruk bagi masyarakat sekitar," kata Mashelrita.