PADANG — PT Pertamina (Persero) kembali melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di wilayah Sumatera Barat mulai Senin (4/5/2026). Kebijakan ini menyasar produk bensin beroktan tinggi dan varian diesel premium, menandai kenaikan kedua dalam kurun waktu kurang dari satu bulan setelah perubahan terakhir pada 18 April 2026.
Lonjakan harga paling signifikan terjadi pada segmen diesel. Produk Pertamina Dex mengalami kenaikan tajam sebesar Rp4.000 per liter, sementara Dexlite juga merangkak naik mengikuti mekanisme pasar global. Meski demikian, manajemen Pertamina memutuskan untuk tidak mengubah harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (RON 95) demi meredam dampak inflasi di tingkat konsumen.
Berdasarkan data terbaru, harga Pertamina Dex di Sumatera Barat kini dibanderol Rp29.100 per liter. Produk Dexlite juga mengalami penyesuaian menjadi Rp27.150 per liter. Kenaikan ini dipicu oleh pergerakan harga minyak mentah dunia yang menjadi acuan utama penetapan harga BBM nonsubsidi di Indonesia.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari evaluasi berkala. Pertamina mengklaim tetap memperhatikan berbagai aspek sebelum menetapkan angka baru di setiap wilayah.
"Produk nonsubsidi pada prinsipnya mengikuti harga keekonomian dan mengacu pada ketentuan yang berlaku," ujar Roberth MV Dumatubun, Senin (4/5/2026).
Meskipun berorientasi pada harga pasar, Roberth menambahkan bahwa Pertamina tetap mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi. Stabilitas nasional dan daya beli masyarakat diklaim tetap menjadi variabel penting dalam pengambilan keputusan korporasi.
Di tengah kenaikan harga produk diesel, pengguna kendaraan pribadi di Sumatera Barat sedikit bernapas lega. Pertamina memutuskan untuk menahan harga Pertamax di angka Rp12.900 per liter. Langkah serupa juga diterapkan pada produk Pertamax Green yang tetap dipasarkan seharga Rp12.900 per liter.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron menjelaskan, kebijakan mempertahankan harga Pertamax dilakukan secara sengaja. Hal ini bertujuan untuk memberikan bantalan ekonomi bagi masyarakat kelas menengah agar tidak terbebani kenaikan biaya transportasi secara mendadak.
"Harga Pertamax 92 dan Pertamax Green 95 tetap, agar kondisi ekonomi masyarakat tetap terjaga," kata Muhammad Baron dalam keterangan resminya.
Untuk sektor BBM bersubsidi, pemerintah juga tidak melakukan perubahan. Harga Pertalite tetap dipatok Rp10.000 per liter dan Biosolar bertahan di angka Rp6.800 per liter. Keputusan ini menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas harga barang pokok yang sangat bergantung pada biaya logistik kendaraan subsidi.
Kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex diperkirakan bakal memberi tekanan pada sektor transportasi kelas atas dan logistik perkebunan di Sumatera Barat. Mengingat wilayah ini bergantung pada distribusi darat, kenaikan biaya operasional kendaraan diesel premium berpotensi memicu penyesuaian biaya jasa angkutan tertentu.
Para pelaku usaha yang menggunakan armada bermesin diesel modern kini harus mengalokasikan anggaran ekstra untuk bahan bakar. Namun, karena harga Biosolar tidak berubah, dampak terhadap harga pangan dan kebutuhan pokok masyarakat luas diprediksi masih dapat terkendali dalam jangka pendek.
Berikut adalah daftar lengkap harga BBM Pertamina di wilayah Sumatera Barat per 4 Mei 2026:
Masyarakat diimbau untuk memantau perkembangan harga secara berkala melalui kanal resmi Pertamina. Penyesuaian harga ini berlaku serentak di seluruh SPBU di Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau dengan mengikuti regulasi pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) di masing-masing daerah.