LUBUK BASUNG — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat kini menyiagakan tim medis dan senjata bius guna menangani kemunculan harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) di wilayah Matua Katiak, Nagari Matua Hilia. Keputusan ini diambil sebagai langkah darurat untuk mengamankan satwa sekaligus menghindari konflik fisik dengan penduduk setempat.
Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar, Ade Putra, mengonfirmasi bahwa personel di lapangan telah dibekali peralatan evakuasi medis. Penyiapan tembak bius menjadi prioritas mengingat intensitas kemunculan satwa yang mulai mendekati aktivitas harian warga di Kecamatan Matua.
"Kita menyiapkan tembak bius dan ini opsi yang kita lakukan untuk evakuasi harimau sumatra yang sempat mendekati sekelompok warga," kata Ade Putra di Lubuk Basung, Rabu.
Berdasarkan pengamatan petugas di lapangan, individu harimau yang muncul tersebut diketahui berjenis kelamin betina. Dari ukuran tubuh dan perilakunya, petugas mengidentifikasi satwa ini masih dalam usia anak atau remaja.
Meski masih berusia anak, keberadaannya memicu kekhawatiran serius karena sempat menunjukkan perilaku interaktif dengan petugas di lokasi kemunculan. Satwa tersebut dilaporkan terus bergerak dan kini terpantau mengarah ke wilayah nagari tetangga setelah sempat menghilang dari lokasi awal pada Selasa (5/5) malam.
Situasi memuncak pada Selasa siang ketika sekelompok warga yang sedang bekerja di sawah dikejutkan oleh kehadiran harimau tersebut. Merasa terancam, para petani langsung menyelamatkan diri ke dalam pondok sawah dan bertahan di sana selama beberapa waktu.
Mendapat laporan tersebut, tim gabungan dari BKSDA, Koramil Matua, Polsek Matua, dan pemerintah nagari segera bergerak ke lokasi untuk melakukan evakuasi. Petugas berupaya menjauhkan harimau dari jangkauan manusia agar warga bisa keluar dari zona bahaya.
"Harimau kita jauhkan dari warga dan mereka langsung dievakuasi ke pemukiman dengan jarak sekitar dua kilometer dari sawah mereka," jelas Ade.
Hingga saat ini, upaya penangkapan tidak hanya mengandalkan tembak bius. BKSDA bersama Tim Patroli Anak Nagari (Pagari) Baringin dan Pagari Salareh Aia terus menyisir kawasan hutan dan perkebunan hingga dini hari guna memantau pergerakan sang raja hutan.
Selain patroli rutin, petugas juga telah memasang kandang jebak di beberapa titik strategis. Salah satu kandang telah disiagakan di wilayah Taruyan, Nagari Tigo Balai, sejak Minggu (2/5) lalu sebagai upaya preventif sebelum konflik meluas.
BKSDA mengimbau warga untuk tetap waspada dan tidak melakukan tindakan anarkis terhadap satwa dilindungi tersebut. Tim dokter hewan juga telah diterjunkan ke lokasi guna memastikan proses evakuasi nantinya berjalan sesuai prosedur kesejahteraan satwa.