Mo Li Kai-yin, penari yang lumpuh akibat tertimpa layar LED raksasa di konser Mirror, memberikan kesaksian perdana di pengadilan Hong Kong pada Senin (25/11). Proses hukum ini bertujuan menentukan nilai ganti rugi setelah pihak perusahaan dinyatakan bersalah atas kelalaian standar keselamatan kerja.
Mo Li Kai-yin akhirnya muncul memberikan kesaksian langsung di depan Pengadilan Distrik Hong Kong melalui sambungan video. Penari berusia 31 tahun tersebut memberikan keterangan dari bangsal rumah sakit pribadi dengan bantuan ibunya untuk membuka dokumen dan membalik halaman kertas.
Kehadiran Mo Li di persidangan ini merupakan momen krusial sejak insiden tragis di Hong Kong Coliseum pada 28 Juli 2022. Hakim kini tengah melakukan penilaian terhadap jumlah ganti rugi yang harus dibayarkan oleh Studiodanz, perusahaan yang dinyatakan bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut.
Pengadilan sebelumnya telah menetapkan bahwa Studiodanz bersalah di bawah Ordonansi Kompensasi Karyawan. Perusahaan dinilai gagal menjamin keselamatan kerja hingga menyebabkan cedera permanen pada sang penari di tengah konser boy band Cantopop, Mirror.
Kronologi Kegagalan Teknis Layar LED 500 Kilogram
Tragedi ini bermula saat pertunjukan keempat dari rangkaian 12 jadwal konser Mirror. Sebuah layar LED raksasa dengan berat mencapai 500 kilogram (1.102 pon) terlepas dari pengait di langit-langit stadion dan jatuh tepat mengenai tubuh Mo Li.
Hantaman beban setengah ton tersebut mengakibatkan Mo Li mengalami kelumpuhan total dari leher ke bawah. Berikut adalah detail teknis terkait insiden dan dampaknya bagi korban:
- Beban Material: Panel LED seberat 500 kg jatuh bebas dari ketinggian plafon stadion.
- Dampak Medis: Kelumpuhan total (paralisis) pada bagian ekstremitas bawah hingga leher.
- Durasi Perawatan: Lebih dari dua tahun menjalani rehabilitasi intensif di berbagai negara.
- Lokasi Pengobatan: Fasilitas medis khusus di Beijing (Tiongkok) dan Thailand.
Kuasa hukum Mo Li, Eric Tsoi Yat-chung, mengungkapkan bahwa kliennya sempat menjalani perawatan di beberapa institusi luar negeri sebelum akhirnya kembali ke Hong Kong. Meski demikian, tim hukum meminta pengadilan menjaga privasi rincian riwayat medis lengkap Mo Li selama persidangan berlangsung.
Tanggung Jawab Hukum dan Standar Keselamatan Kerja
Kasus Mo Li menjadi preseden penting dalam industri hiburan global mengenai integrasi teknologi panggung dan keselamatan manusia. Hakim Pengadilan Distrik berfokus pada penilaian kerugian materiil dan imateriil yang dialami korban selama sisa hidupnya.
Studiodanz, sebagai pemberi kerja, memikul beban kompensasi penuh setelah investigasi menemukan adanya pengabaian standar prosedur operasional (SOP) dalam pemasangan beban berat di area panggung. Kelalaian ini tidak hanya mengakhiri karier Mo Li sebagai penari profesional, tetapi juga mengubah total kualitas hidupnya di usia produktif.
Kesaksian Mo Li melalui video link memperlihatkan kondisi fisiknya yang masih sangat terbatas. Sang ibu terus mendampingi di sisi tempat tidur untuk membantu proses administrasi persidangan yang berlangsung secara formal tersebut.
Relevansi Keamanan Konser Skala Besar di Indonesia
Insiden Mirror di Hong Kong menjadi pelajaran berharga bagi industri promotor musik di Indonesia, terutama dengan meningkatnya tren konser stadion di Jakarta dan kota besar lainnya. Penggunaan layar LED gantung (rigging) berukuran masif kini menjadi standar di konser-konser K-pop maupun artis internasional yang mampir ke tanah air.
Regulasi mengenai beban teknis dan sertifikasi vendor rigging di Indonesia harus diperketat untuk mencegah kegagalan struktur serupa. Kasus Mo Li membuktikan bahwa kegagalan teknis pada perangkat visual panggung dapat berujung pada konsekuensi hukum dan finansial yang sangat masif bagi penyelenggara.
Pemerintah Hong Kong sendiri telah memperketat aturan pemasangan perangkat panggung di fasilitas publik pasca-kejadian ini. Langkah serupa diharapkan menjadi perhatian bagi pengelola venue besar di Indonesia seperti Gelora Bung Karno (GBK) atau Jakarta International Stadium (JIS) dalam memverifikasi beban teknis setiap acara.
Proses persidangan Mo Li Kai-yin masih akan berlanjut untuk merampungkan kalkulasi ganti rugi final. Keputusan ini nantinya akan menjadi acuan standar kompensasi bagi pekerja industri kreatif yang mengalami kecelakaan kerja akibat kegagalan teknologi panggung.