SUMATERA BARAT — Keputusan FIFA mengumumkan rencana penjualan saham hak komersial Piala Dunia pekan lalu mengejutkan banyak pihak. Organisasi sepak bola dunia itu bergerak tanpa konsultasi dengan anggota atau pemangku kepentingan lainnya. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari pola kepemimpinan Infantino yang kian otoriter.
Dari Birokrat Swiss Jadi "Kepala Negara" Sepak Bola
Saat pertama kali terpilih pada 2016, Infantino digambarkan sebagai birokrat Swiss tipikal. Kini, petinggi sepak bola menyebutnya "seperti menjalankan negara bangsa." Transformasi ini terlihat dari rentetan inisiatif ekspansi yang diluncurkan tanpa banyak hambatan internal.
Infantino langsung mengusulkan perluasan Piala Dunia pada tahun terpilihnya. Dua tahun berselang, ide Piala Dunia 48 tim untuk 2026 dikonfirmasi. Ia juga sempat menggagas Nations League global dan Piala Dunia dua tahun sekali, meski beberapa rencana batal karena tekanan.
Pasca-Pandemi: Akselerasi Ekspansi Semakin Cepat
Setelah pandemi Covid-19 menyebabkan kerugian finansial besar, FIFA mempercepat laju inovasi. Turnamen Piala Dunia Antarklub 32 tim diluncurkan dan segera dibahas perluasannya. Pengajuan tuan rumah Piala Dunia 2034 ke Arab Saudi terjadi secara mendadak tanpa pesaing. Bahkan Piala Dunia 2030 akan digelar di tiga benua dengan enam negara tuan rumah, dan ada wacana ekspansi lagi menjadi 64 tim.
“Dia selalu berjanji akan ada peningkatan dana yang sangat signifikan,” ujar salah satu sumber internal FIFA. Janji kampanye itu kini diwujudkan lewat berbagai skema komersial agresif.
Mengapa Infantino Terus Mengejar Ekspansi?
Ada tiga tafsir utama di balik ambisi ini. Pertama, patronase: dana yang disalurkan ke asosiasi anggota memastikan dukungan politik saat perpanjangan mandat. Infantino sendiri telah mengubah aturan masa jabatan presiden FIFA sejak berkuasa, dan masa jabatan ketiganya yang hampir pasti akan menjadi yang terakhir.
Kedua, rencana posisi pasca-presiden. Laporan The Times menyebut Infantino bisa menjadi CEO dari badan usaha baru hasil penjualan hak komersial. FIFA membantah adanya diskusi tersebut, tapi skema ini dinilai masuk akal untuk menjamin pendapatan pribadi setara eksekutif korporat, bukan pimpinan NGO.
Godaan Kekuasaan dan Status Global
Penjelasan ketiga, dan paling sulit diabaikan, adalah kecanduan status dan kekuasaan. Anak imigran Italia-Swiss yang tumbuh kelas pekerja dan pernah di-bully karena rambut merahnya kini duduk di kursi tertinggi. Infantino kerap terlihat bersama pemimpin dunia: Vladimir Putin, Emir Qatar, Putra Mahkota Arab Saudi, hingga Presiden AS Donald Trump.
Ia juga gemar bergaul dengan selebritas dan menggunakan jet pribadi. Dua belas mantan pemain profesional, yang kini disebut FIFA Legends, direkrut untuk mendukung pencalonannya tahun 2016. “Aliansi politik sering tidak stabil dan bersifat transaksional,” tulis Paul MacInnes dalam analisisnya. “Risikonya, mereka bisa meminta harga yang mahal.”
Dampak bagi Sepak Bola Global
Infantino telah melipatgandakan pendapatan FIFA tiga kali lipat sejak menjabat. Namun, setiap langkah ekspansi selalu diikuti pertanyaan: sejauh mana batas ambisi ini? Dengan Piala Dunia 2026 yang sudah diperluas dan turnamen 2030 yang tersebar di enam negara, masa depan turnamen paling bergengsi di dunia ini kian tidak pasti.
Yang jelas, Infantino berhasil memaksakan perubahan tanpa perlawanan berarti dari dalam FIFA atau komunitas sepak bola global. Kekuasaannya kini nyaris absolut, dan dunia sepak bola hanya bisa menunggu langkah selanjutnya.