Pencarian

232 Titik Panas Terdeteksi di Sumatera Barat pada Agustus 2026, Pesisir Selatan Jadi Wilayah Terbanyak

Senin, 24 Agustus 2026 • 18:14:32 WIB
232 Titik Panas Terdeteksi di Sumatera Barat pada Agustus 2026, Pesisir Selatan Jadi Wilayah Terbanyak
Pesisir Selatan mencatat akumulasi titik panas tertinggi di Sumatera Barat sepanjang dua pekan pertama Agustus 2026.

PADANG — Fluktuasi harian titik panas di Sumatera Barat cukup tajam sepanjang dua pekan pertama Agustus 2026. Puncaknya terjadi pada 8 Agustus dengan 43 titik terdeteksi dalam sehari, disusul 1 Agustus (34 titik), 12 Agustus (31 titik), serta 2 dan 7 Agustus yang masing-masing mencatat 30 titik.

Kepala DLH Sumatera Barat Tasliatul Fuaddi menyebut data tersebut merupakan hasil pemantauan sistem SIPONGI yang memadukan data dari satelit NASA-MODIS, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20. Sensor VIIRS pada dua satelit terakhir disebut punya resolusi lebih baik dalam mendeteksi titik panas dibandingkan MODIS.

Pesisir Selatan Mendominasi, Dharmasraya hingga Sawahlunto Ikut Terpantau

Kabupaten Pesisir Selatan menjadi wilayah dengan akumulasi hotspot terbesar. Selain 41 titik pada dua hari pertama, wilayah ini kembali mencatat 18 titik pada 12 Agustus serta delapan dan tujuh titik berturut-turut pada 10 dan 11 Agustus.

Selain Pesisir Selatan, titik panas juga tersebar di Dharmasraya, Pasaman, Pasaman Barat, Sijunjung, Solok, Solok Selatan, Lima Puluh Kota, Agam, Padang Pariaman, Tanah Datar, dan Kota Sawahlunto.

Kualitas Udara Masih Sedang, Tapi PM2,5 Menunjukkan Tren Naik

Meski jumlah titik panas terbilang tinggi, pantauan Stasiun AQMS Padang Pariaman pada periode yang sama menunjukkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) masih berada di kategori sedang, dengan rentang nilai 86–88. Tidak ada pengamatan yang masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya.

Kendati demikian, konsentrasi PM2,5 memperlihatkan kecenderungan meningkat menjelang akhir periode pengamatan. Rata-rata harian naik dari 4,79 pada 10 Agustus menjadi 5,52 keesokan harinya, lalu 6,83 pada 12 Agustus dan 6,75 pada 13 Agustus.

"Pemantauan kualitas udara tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama karena terdapat kecenderungan peningkatan PM2,5 pada akhir periode pengamatan," ujar Tasliatul.

Indikator Awal Kebakaran Hutan dan Lahan

Keberadaan hotspot disebut sebagai indikator awal yang penting untuk mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini tidak hanya terjadi di Sumatera Barat. Provinsi tetangga mencatat angka yang jauh lebih tinggi pada periode yang sama, antara lain Sumatera Selatan 2.838 titik, Riau 927 titik, Jambi 794 titik, Sumatera Utara 289 titik, dan Bengkulu 129 titik.

"Pemantauan hotspot dan kualitas udara menjadi bagian penting dalam mengantisipasi potensi kebakaran dan dampaknya terhadap lingkungan maupun masyarakat," kata Tasliatul.

DLH Sumatera Barat memastikan pemantauan akan terus dilakukan secara berkala, mengingat tren kenaikan konsentrasi partikel halus di akhir periode pengamatan berpotensi memengaruhi kualitas udara jika karhutla meluas.

Follow www.inisumbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: mediaindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks