Ryanair mendesak Uni Eropa menunda implementasi Sistem Masuk/Keluar (EES) biometrik hingga September 2024 setelah memicu antrean panjang di berbagai bandara Spanyol. Kendala teknis pada sistem baru ini menyebabkan banyak penumpang tertinggal pesawat di tengah puncak musim liburan musim panas.
Maskapai berbiaya rendah Ryanair resmi melayangkan surat keberatan kepada Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska. Perusahaan menuntut penghentian sementara penggunaan Entry/Exit System (EES) Uni Eropa yang baru saja diaktifkan pada 10 April lalu. Ryanair menilai sistem kontrol perbatasan otomatis tersebut belum siap dan justru menciptakan kekacauan di lapangan.
Laporan internal maskapai menunjukkan antrean di pemeriksaan paspor kini mencapai satu hingga dua jam. Kondisi ini terjadi di bandara-bandara utama yang menjadi gerbang pariwisata. Jika tidak segera ditangguhkan, Ryanair memprediksi situasi akan semakin memburuk saat memasuki puncak arus perjalanan musim panas pada Juli dan Agustus mendatang.
Entry/Exit System (EES) merupakan infrastruktur teknologi terbaru Uni Eropa yang dirancang untuk menggantikan stempel paspor manual bagi pelancong non-Uni Eropa (ekstracomunitarios). Sistem ini bekerja dengan merekam data spesifik setiap penumpang yang melintasi perbatasan luar ruang Schengen.
Data biometrik yang diambil meliputi:
Implementasi sistem ini sangat krusial di Spanyol karena tingginya volume turis asal Inggris pasca-Brexit. Sebagai warga negara non-Uni Eropa, jutaan pelancong Inggris kini wajib melewati prosedur EES, yang ternyata memakan waktu jauh lebih lama dibandingkan proses manual sebelumnya.
Ryanair mengidentifikasi setidaknya tujuh bandara di Spanyol yang mengalami kendala operasional paling parah akibat kegagalan sistem biometrik ini. Lokasi tersebut meliputi Malaga, Alicante, Lanzarote, Tenerife Sur, Gran Canaria, Reus, dan Fuerteventura.
Direktur Operasi Ryanair, Neal McMahon, menyatakan bahwa pemerintah di seluruh Eropa mencoba memaksakan sistem IT yang belum matang. "Pemerintah mencoba menerapkan sistem komputer yang baru setengah jadi di tengah musim perjalanan tersibuk tahun ini, dan penumpang yang harus menanggung risikonya," ujar McMahon dalam keterangan resminya.
Pihak maskapai menyoroti tiga masalah utama yang memicu kemacetan di bandara:
Kritik tajam diarahkan kepada otoritas Spanyol yang dianggap lalai dalam mempersiapkan transisi teknologi ini. Padahal, tanggal pemberlakuan EES sudah diketahui sejak tiga tahun lalu. Ryanair menegaskan bahwa kegagalan menyediakan staf dan infrastruktur teknis yang memadai adalah bentuk pengabaian terhadap kenyamanan penumpang.
Tekanan ini muncul saat industri penerbangan Spanyol sedang diproyeksikan mencapai rekor tertinggi. Data dari Association of Airlines (ALA) menunjukkan maskapai telah menjadwalkan sekitar 260 juta kursi untuk musim panas ini, meningkat 5,7% dibandingkan tahun lalu. Tanpa fleksibilitas sistem, lonjakan penumpang ini dipastikan akan memicu kolaps di area imigrasi.
Langkah penundaan ini sebenarnya memiliki preseden hukum. Yunani telah lebih dulu memutuskan untuk menunda penerapan EES hingga September guna memastikan kelancaran arus wisata musim panas. Ryanair mendesak Spanyol menggunakan celah regulasi (UE) 2025/1534 yang memungkinkan fleksibilitas implementasi dalam kondisi darurat operasional.
Bagi warga negara Indonesia (WNI) yang berencana melakukan perjalanan ke Eropa, khususnya Spanyol, dalam waktu dekat, situasi ini memerlukan perhatian ekstra. Sebagai pemegang paspor non-Uni Eropa, traveler Indonesia akan masuk dalam kategori wajib rekam data biometrik EES di bandara kedatangan pertama dalam ruang Schengen.
Potensi antrean panjang hingga dua jam berarti traveler harus menyiapkan waktu transit yang lebih lama jika memiliki penerbangan lanjutan (connecting flight). Sangat disarankan untuk tiba di bandara keberangkatan lebih awal dan memastikan seluruh dokumen visa Schengen dalam kondisi siap pindai guna mempercepat proses verifikasi biometrik di kios otomatis.
Hingga saat ini, organisasi penerbangan internasional seperti IATA dan ACI Europe terus mendesak Komisi Eropa untuk memperbaiki celah teknis pada sistem EES. Mereka memperingatkan adanya "ketidaksinkronan total" antara persepsi pejabat Uni Eropa yang menganggap sistem berfungsi baik dengan realitas pahit yang dihadapi penumpang di lapangan.