Raksasa perangkat lunak SAP resmi mengakuisisi startup AI asal Jerman, Prior Labs, dengan rencana investasi mencapai 1 miliar Euro atau sekitar Rp 18,5 triliun dalam empat tahun ke depan. Langkah agresif ini diambil untuk memperkuat pengolahan data terstruktur sekaligus membatasi akses agen AI pihak ketiga yang tidak terverifikasi di ekosistem mereka. Strategi ini menjadi upaya krusial SAP bangkit dari tekanan pasar setelah nilai sahamnya sempat merosot tajam pada awal 2026.
SAP tidak lagi sekadar menonton dari pinggir lapangan saat gelombang AI generatif mulai menjamah proses bisnis inti perusahaan. Melalui akuisisi Prior Labs, startup yang baru berusia 18 bulan, raksasa teknologi Eropa ini mencoba menjawab kritik bahwa kecerdasan buatan belum benar-benar menembus sistem operasional perusahaan yang kompleks.
Investasi senilai 1,16 miliar dolar AS (sekitar Rp 18,5 triliun) ini akan dialokasikan untuk mengembangkan laboratorium AI yang fokus pada data terstruktur. Berbeda dengan model bahasa besar (LLM) yang mengolah teks, Prior Labs mengkhususkan diri pada Tabular Foundation Models (TFM) yang mampu memprediksi data dalam tabel dan basis data—jantung dari sistem akuntansi, SDM, dan pengadaan milik SAP.
Fokus pada Data Terstruktur ketimbang Bahasa
Keputusan SAP memilih Prior Labs didasari oleh kebutuhan industri yang lebih membutuhkan akurasi data angka daripada sekadar kemampuan bercakap. Model seri TabPFN milik startup ini telah diunduh lebih dari tiga juta kali oleh pengembang, membuktikan tingginya permintaan atas AI yang memahami logika basis data.
Frank Hutter, Noah Hollmann, dan Sauraj Gambhir sebagai pendiri Prior Labs akan menerima pembayaran tunai yang diperkirakan mencapai lebih dari 500 juta dolar AS. SAP berjanji akan mempertahankan unit ini secara independen di Freiburg, Jerman, untuk menjaga kecepatan riset mereka dalam mengembangkan AI sumber terbuka.
"Sejak awal, SAP menyadari bahwa peluang terbesar yang belum tergarap dalam AI enterprise bukanlah model bahasa besar, melainkan AI yang dibangun untuk data terstruktur," ujar CTO SAP Philipp Herzig dalam pernyataan resminya.
Blokade Agen AI dan Dominasi Nvidia NemoClaw
Di balik akuisisi ini, SAP juga mulai membangun benteng pertahanan terhadap ekosistem agen AI pihak ketiga. Perusahaan secara resmi melarang penggunaan OpenClaw dan teknologi agen lainnya yang tidak mendapatkan otorisasi eksplisit melalui kebijakan API terbaru mereka.
Langkah ini memaksa pelanggan untuk menggunakan arsitektur yang telah disetujui, seperti Joule Agents milik SAP yang saat ini masih dalam tahap beta. Selain itu, SAP memberikan lampu hijau bagi NemoClaw milik Nvidia, hasil kolaborasi strategis yang diumumkan Maret lalu untuk mengelola agen AI di lingkungan korporasi yang mengutamakan keamanan.
Pembatasan ini menunjukkan pergeseran strategi SAP yang kini lebih protektif terhadap akses data pelanggan. Dengan mengontrol "pintu masuk" agen AI, SAP memastikan bahwa otomatisasi proses bisnis tetap berjalan di bawah pengawasan dan standar keamanan mereka sendiri.
Upaya Keluar dari Tekanan SaaSpocalypse
Agresivitas SAP di bidang AI merupakan respons langsung terhadap penurunan nilai saham perusahaan yang signifikan pada 2026 akibat fenomena "SaaSpocalypse". CFO SAP Dominik Asam sempat menekankan pentingnya mengadopsi teknologi baru ke dalam portofolio litbang untuk menjaga keunggulan skala ekonomi perusahaan.
Sebelum mencaplok Prior Labs, SAP sebenarnya telah menanamkan modal di berbagai pemain besar seperti Anthropic, Aleph Alpha, dan Cohere. Perusahaan juga sempat mengembangkan model internal bernama SAP-RPT-1, namun akuisisi Prior Labs dianggap sebagai jalan pintas strategis untuk mendominasi pasar AI berbasis data tabular.
Integrasi teknologi Prior Labs nantinya akan memperkuat SAP AI Core dan SAP Business Data Cloud. Jika berhasil, investasi triliunan rupiah ini akan menjadikan SAP sebagai pusat gravitasi baru bagi pengembangan AI di Eropa, sekaligus mengamankan posisi mereka dari ancaman disrupsi agen AI yang kian liar.