Arsenal resmi melangkah ke final Liga Champions setelah menumbangkan Atletico Madrid dengan skor tipis 1-0 pada laga semifinal yang dramatis. Gol tunggal Bukayo Saka memastikan The Gunners kembali ke partai puncak kompetisi tertinggi Eropa tersebut untuk pertama kalinya sejak 2006.
Penantian panjang selama 18 tahun itu akhirnya tuntas. Arsenal berhasil melewati hadangan alot Atletico Madrid dalam malam yang penuh ketegangan di London. Kemenangan ini membawa pasukan Mikel Arteta selangkah lagi mencetak sejarah baru di kompetisi antarklub paling bergengsi di dunia.
Sejak peluit pertama dibunyikan, Arsenal langsung mengambil inisiatif serangan untuk membongkar pertahanan gerendel khas Diego Simeone. Meski sempat kesulitan menembus rapatnya barisan belakang tim tamu, kesabaran Meriam London akhirnya membuahkan hasil tepat sebelum turun minum.
Momen Krusial Bukayo Saka dan Blunder Jan Oblak
Gol yang dinanti publik tuan rumah tercipta pada menit ke-44. Berawal dari umpan terobosan William Saliba ke sisi kanan, Viktor Gyökeres berhasil mengirimkan umpan silang yang disambut oleh Leandro Trossard di tiang jauh. Trossard melepaskan tembakan keras yang gagal ditangkap dengan sempurna oleh Jan Oblak.
Bola muntah hasil tepisan lemah Oblak langsung disambar oleh Bukayo Saka yang berdiri di posisi tepat. Sontekan jarak dekat pemain timnas Inggris tersebut menggetarkan jala gawang Atletico dan mengubah skor menjadi 1-0. Gol ini sekaligus menjadi penebus dosa bagi Saka setelah kegagalannya di semifinal musim lalu.
Arsenal tampil sangat dominan di babak pertama dengan mencatatkan penguasaan bola yang tinggi. Sebaliknya, Atletico Madrid hanya sesekali mengancam melalui serangan balik cepat yang dimotori oleh Antoine Griezmann dan Giuliano Simeone.
Tembok Pertahanan Kokoh dan Performa Impresif Declan Rice
Memasuki babak kedua, Atletico Madrid meningkatkan intensitas serangan demi mengejar ketertinggalan. Namun, mereka harus berhadapan dengan lini belakang Arsenal yang baru kebobolan enam gol sepanjang turnamen musim ini. Duet Gabriel Magalhaes dan William Saliba tampil sangat disiplin menghalau setiap serangan udara.
Di lini tengah, Declan Rice menunjukkan kelasnya sebagai jenderal lapangan tengah. Rice berkali-kali melakukan intersep krusial, termasuk blok penting saat menghalau peluang emas Giuliano Simeone. Perannya dalam menjaga kedalaman skuad menjadi kunci Arsenal mampu meredam agresivitas Los Colchoneros.
Drama sempat terjadi saat Diego Simeone memprotes keras keputusan wasit yang tidak memberikan penalti ketika Giuliano terjatuh di kotak terlarang. Meski tayangan ulang menunjukkan adanya kontak minimal dengan Gabriel, wasit tetap pada keputusannya untuk melanjutkan pertandingan.
Menanti Sejarah Baru di Partai Puncak
Atletico Madrid hampir saja memaksakan hasil imbang pada menit ke-86 melalui pemain pengganti, Alexander Sorloth. Penyerang jangkung tersebut gagal menyambar umpan silang mendatar di depan gawang yang sudah kosong. Hingga peluit panjang berbunyi, skor 1-0 untuk keunggulan Arsenal tetap bertahan.
Kini, Arsenal tinggal menunggu pemenang antara Paris Saint-Germain atau Bayern Munich sebagai lawan di final. Rekor menunjukkan bahwa tidak ada klub yang memainkan lebih banyak pertandingan di Liga Champions tanpa memenangkan trofi selain Arsenal. Musim ini menjadi kesempatan emas bagi Arteta untuk menghapus kutukan tersebut.
"Ini adalah langkah besar bagi klub dan para pemain. Kami menderita, kami berjuang, dan akhirnya kami layak berada di sana (final)," ujar Mikel Arteta dalam perayaan emosional di pinggir lapangan setelah laga usai.