Suporter Arsenal harus menghadapi tantangan finansial besar dengan harga tiket pesawat mencapai Rp 30 juta untuk menyaksikan final Liga Champions di Budapest. Selain biaya transportasi yang melonjak, keterbatasan alokasi tiket resmi memaksa para penggemar mencari jalur alternatif menuju ibu kota Hungaria tersebut.
Arsenal tengah berjuang keras mengawinkan gelar Liga Inggris dan Liga Champions musim ini. Namun, ambisi besar di lapangan hijau ternyata berbanding lurus dengan perjuangan ekstra yang harus ditempuh para pendukungnya untuk hadir langsung di laga puncak pada 30 Mei mendatang.
Biaya Penerbangan Melambung hingga Rp 30 Juta
Penerbangan langsung dari London menuju Budapest kini dilaporkan menyentuh angka £1.500 atau sekitar Rp 30,5 juta per orang. Lonjakan harga ini terjadi seketika seiring tingginya permintaan menjelang partai final kompetisi kasta tertinggi Eropa tersebut.
Kondisi ini diperparah dengan ketersediaan hotel di pusat kota yang nyaris habis. Sebagian besar kamar yang masih tersedia saat ini berlokasi sekitar 20 mil atau 32 kilometer dari Budapest. Hal ini memaksa suporter untuk mempertimbangkan biaya transportasi tambahan dan waktu tempuh yang lebih lama selama di Hungaria.
Alokasi Tiket Resmi Hanya 16 Ribu Kursi
Uefa dilaporkan hanya memberikan alokasi tiket resmi sebanyak 16.824 kursi untuk masing-masing klub finalis. Angka ini dinilai sangat minim mengingat basis massa The Gunners yang masif dan antusiasme tinggi setelah penantian panjang di kancah kontinental.
Gelandang andalan Arsenal, Declan Rice, sempat melontarkan keinginan agar 200.000 pendukung bisa memadati Budapest di akhir bulan ini. Namun, kesenjangan antara jumlah peminat dan kapasitas resmi yang tersedia membuat banyak fans harus menunjukkan fleksibilitas logistik yang luar biasa agar tetap bisa berangkat.
Opsi Kereta Malam dari Bucharest Jadi Alternatif
Demi menekan biaya yang tidak masuk akal, sebagian kelompok suporter mulai merencanakan rute perjalanan tidak biasa. Salah satu opsi ekstrem yang muncul adalah terbang ke Rumania dan melanjutkan perjalanan menggunakan kereta malam dari Bucharest menuju Budapest.
Strategi ini membutuhkan ketahanan fisik ekstra karena mengharuskan penumpang terjaga hampir sepanjang malam di perjalanan. Meski melelahkan, jalur ini dianggap paling masuk akal secara finansial dibandingkan membayar tiket pesawat langsung yang harganya setara biaya hidup berbulan-bulan.
Manajemen klub dan kelompok suporter kini terus memantau perkembangan situasi, sembari berharap ada solusi tambahan terkait transportasi massal bagi mereka yang sudah mengantongi tiket pertandingan namun terkendala akses menuju lokasi.